Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Mengenal Filosofi Sungkem Ketika Lebaran Merendahkan Diri, Meninggikan Kasih

Viona Rj • Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:00 WIB
Tradisi Sungkem Lebaran (AI)
Tradisi Sungkem Lebaran (AI)

 

HALOJEMBER - Lebaran bukan sekadar perayaan setelah sebulan berpuasa, tetapi juga momentum untuk kembali menyucikan hati. Salah satu tradisi yang sarat makna dalam perayaan ini adalah sungkem  sebuah bentuk penghormatan kepada orang tua dan sesepuh dengan cara menunduk, berlutut, atau mencium tangan mereka sambil memohon maaf.

Tradisi sungkem banyak dijumpai dalam budaya masyarakat Indonesia, khususnya yang kental dengan nilai-nilai budaya Jawa. Namun lebih dari sekadar adat, sungkem menyimpan filosofi mendalam tentang kerendahan hati dan bakti kepada orang tua.

1. Simbol Kerendahan Hati

Sungkem mengajarkan bahwa memaafkan dan meminta maaf membutuhkan kebesaran jiwa. Saat seseorang menundukkan badan di hadapan orang tua, itu bukan tanda kelemahan, melainkan simbol kerendahan hati. Dalam momen itu, ego dilepaskan, gengsi ditanggalkan, dan hati dibuka selebar-lebarnya.

Gerakan fisik yang merendah menjadi representasi sikap batin yang tulus.

2. Bentuk Bakti kepada Orang Tua

Lebaran menjadi waktu yang tepat untuk menyampaikan rasa terima kasih atas doa, pengorbanan, dan kasih sayang orang tua. Sungkem bukan hanya ucapan “mohon maaf lahir dan batin,” tetapi juga pengakuan atas segala jasa yang tak terhitung.

Air mata yang sering mengiringi sungkem adalah bahasa hati — pertemuan antara rasa haru, penyesalan, dan cinta.

3. Menguatkan Ikatan Keluarga

Dalam suasana Lebaran, sungkem menjadi momen sakral yang menyatukan keluarga. Ketika satu per satu anggota keluarga bersimpuh, tercipta ruang emosional yang hangat. Konflik yang mungkin sempat terjadi selama setahun terakhir seolah luruh dalam pelukan dan doa.

Tradisi ini menjaga nilai kekeluargaan agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

4. Mengajarkan Generasi Muda tentang Hormat

Bagi anak-anak, melihat dan melakukan sungkem menjadi pelajaran langsung tentang adab dan penghormatan kepada yang lebih tua. Nilai ini penting agar rasa hormat tidak hanya menjadi teori, tetapi praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, sungkem bukan sekadar tradisi tahunan. Ia adalah pengingat bahwa manusia tidak pernah lepas dari salah dan khilaf. Dengan merendahkan diri di hadapan orang tua, seseorang justru meninggikan nilai kemanusiaan dan kasih sayang.

Editor : Viona Rj
#SUNGKEM #lebaran #tradisi