Halojember - Viral di media sosial, sejumlah warga menyampaikan pendapat yang cukup menyita perhatian publik. Dalam berbagai unggahan dan perbincangan daring, muncul anggapan bahwa menu sesajen dinilai lebih bergizi dibandingkan dengan menu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pendapat ini berangkat dari perbandingan isi sesajen yang kerap digunakan dalam tradisi masyarakat. Sesajen biasanya terdiri dari beragam jenis makanan, mulai dari buah-buahan segar, nasi, lauk-pauk, hingga hasil bumi lainnya yang dianggap alami dan memiliki nilai gizi yang lebih beragam. Hal ini kemudian memunculkan persepsi di kalangan sebagian warga bahwa komposisi tersebut terlihat lebih lengkap.
Di sisi lain, menu dalam program MBG yang diterima masyarakat di beberapa wilayah dinilai masih belum konsisten, baik dari segi variasi maupun kualitas. Beberapa warga mengaku menemukan menu yang terkesan sederhana, sehingga memicu perbandingan yang kemudian ramai diperbincangkan di media sosial.
“Kalau dilihat, sesajen itu isinya lengkap, ada buah, ada lauk juga. Jadi kelihatannya lebih sehat,” ujar salah satu warga dalam unggahan yang beredar.
Meski demikian, pernyataan ini tidak lepas dari beragam respons. Sebagian pihak menilai bahwa perbandingan tersebut tidak sepenuhnya tepat, mengingat program MBG merupakan upaya pemerintah untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat secara bertahap dan terukur. Evaluasi terhadap kualitas dan distribusi makanan pun dinilai menjadi hal penting agar tujuan program dapat tercapai secara maksimal.
Fenomena ini mencerminkan bagaimana masyarakat kini semakin aktif menyuarakan pendapatnya di ruang digital. Perbandingan antara tradisi lokal dan program pemerintah menjadi sorotan yang menarik, sekaligus menjadi pengingat bahwa kualitas pelaksanaan program publik akan selalu menjadi perhatian masyarakat luas.
Editor : Harry Erje