Halojember - Fenomena April Mop tahun ini kembali menjadi sorotan publik, terutama setelah seorang influencer ternama membuat konten prank yang dinilai kelewat batas. Dalam video yang diunggahnya, ia berpura-pura mengalami kejadian tragis demi menarik perhatian penonton. Awalnya banyak yang percaya dan ikut merasa khawatir, namun setelah diketahui bahwa hal tersebut hanyalah lelucon, gelombang kritik langsung membanjiri kolom komentar.
Tidak sedikit netizen yang menilai bahwa konten tersebut tidak memiliki empati dan hanya mengejar viralitas semata. Beberapa bahkan menyebut bahwa batas antara hiburan dan sensitivitas publik sudah semakin kabur. “Bercanda boleh, tapi jangan sampai memanfaatkan kepanikan orang lain,” tulis salah satu pengguna media sosial.
Di sisi lain, ada juga yang mencoba memahami bahwa April Mop memang identik dengan lelucon. Namun, mayoritas sepakat bahwa sebagai figur publik, influencer seharusnya lebih bijak dalam membuat konten, apalagi yang berpotensi menimbulkan keresahan.
Kasus ini kembali membuka diskusi soal etika digital, di mana popularitas sering kali mengalahkan nilai tanggung jawab sosial.
Editor : Harry Erje