Halojember - Alih-alih difungsikan sebagai fasilitas pendidikan, gedung program MBG di sebuah lingkungan sekolah justru dijadikan dapur dengan konstruksi yang tampak kokoh dan modern. Ironisnya, di lokasi yang sama, bangunan sekolah tempat siswa belajar masih berupa kayu tua yang terlihat rapuh dan jauh dari standar kelayakan.
Kondisi ini memunculkan kritik dari masyarakat. Banyak yang menilai bahwa pembangunan tidak berpihak pada kebutuhan utama siswa. Di satu sisi, dapur berdiri megah dengan fasilitas memadai, sementara ruang kelas yang digunakan setiap hari justru terabaikan.
“Anak-anak belajar di bangunan yang sudah lapuk, tapi dapurnya malah yang paling kuat. Ini prioritasnya di mana?” ujar seorang warga.
Perbandingan mencolok ini memicu perdebatan publik. Sejumlah pihak mempertanyakan arah kebijakan pembangunan yang dinilai lebih fokus pada fasilitas pendukung ketimbang perbaikan ruang belajar. Padahal, keselamatan dan kenyamanan siswa di ruang kelas seharusnya menjadi hal yang paling utama.
Pengamat pendidikan menilai, fenomena ini mencerminkan ketimpangan perencanaan. Infrastruktur pendidikan seharusnya dibangun secara menyeluruh, dimulai dari kebutuhan paling mendasar seperti ruang kelas yang aman, sebelum menghadirkan fasilitas tambahan.
Hingga kini, kondisi tersebut masih menjadi sorotan. Warga berharap ada evaluasi dan langkah nyata dari pihak berwenang agar pembangunan benar-benar menjawab kebutuhan utama, bukan sekadar menghadirkan bangunan yang tampak megah namun kurang tepat sasaran.
Editor : Harry Erje