Secara historis jejak perjuangan perempuan Indonesia tidak dimulai dan berhenti pada RA Kartini saja. Ia adalah Marcusuar penting dalam sejarah feminisme di Nusantara. Jejak feminis lain seperti Sultanah Safiatuddin Tajul Alam Syah Ratu Aceh yang memerintah pada tahun 1641 – 1675, Nyi Ageng Serang dan lain sebagainya.
Banyak nilai nilai positip yang bisa diambil pelajaran dari paradigma cara berpikir, cara pandang, dan ide ide cemerlang R. A. Kartini yang kecerdasannya luar biasa melampaui pikiran gadis-gadis pada jamannya.
Dalam rangka menggali kembali serta meneruskan warisan intelektual RA Kartini, keberaanian, kegigihan dan ide ide cemerlang RA Kartini dalam memperjuangkan emansipasi wanita keadilan dan nilai nilai kebaikan yang telah dilakukan oleh RA Kartini maka akan diulas beberapa korespondensi RA Kartini dengan para sahabatnya dan juga ide ide dan gagasan RA Kartini, antara lain: Perjalanan Spiritual Kartini, Minadhulumati ilannur.
Kartini mengalami kegelisahan terhadap ajaran agama yang dinilainya dogmatis dan tidak bisa dipahami secara mudah karena ayat ayat Alquran yang berbahasa Arab diajarkan oleh para Ulama di Indonesia belum ada yang mencoba menerjemahkan, begitu cerdasnya gadis Kartini atas keresahan yang dia rasakan kemudian dengan segala kerendahan hati gadis Kartini menyampaikan kepada Gurunya Kyai Sholih Darat Semarang agar beliau berkenan menerjemahkan ayat suci al quran dengan bahasa jawa agar al quran bisa dipahami dengan mudah oleh warga Indonesai khususnya yang berada di Jawa.
Kyai Sholih Darat mendengarkan dan mencermati betul usulan dari RA Kartini yang kemudian beliau menulis Kitab Tafsir Faidz ArRahman fi Tafsir Al-Quran. Tafsir Al Quran Pertama di Nusantara yang menggunakan bahasa jawa dengan aksara pegon hal ini untuk mengecoh larangan penjajah Belanda. Kegelisahan RA Kartini diungkapkan juga kepada sahabat pena RA Kartini yang ada di Belanda JH Abendanon. Kartini merasa bahwa mempelajari Agama tanpa bisa memahami bahasanya adalah hampa.
Dalam suratnya kepada sahabatnya Stella Zeehandelaar 6 November 1899 dan sering di ungkapkan keada JH Abendanoon RA Kartini menulis : “ Alquran terlalu suci tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Disini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab , disini orang belajar Al Quran akan tetapi tidak memahami apa yang dibaca.” Suratnya kepada Abendanon 15 Agustus 1902 “ia menyatakan ingin sekali membaca Alquran dengan bisa memahami arti dari apa yang dibaca “RA Kartini sangat menginginkan adanya terjemahan kitab Suci Al Quran agar bisa memahami dengan baik .
Perjalanan Spiritual ini yang kemudian menginspiraasi semboyannya yang sangat terkenal dengan buku yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” ( minadzulumati ila annuri ).
Demikian juga RA Kartini berpesan agar identitas dirinya pada saat meninggal cukup dengan identitas Identitas hamba Allah dalam akhir hayatnya Kartini menulis keinginannya untuk dikenal sebagai Hamba Allah, keinginan ini diungkapkan dalam suratnya kepada Ny Rosa Abendanon istri dari JH Abendanon pada tanggal 1 Agusts 1903 yakni satu tahun sebelm wafat bunyi suratnya : ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi yaitu hamba Allah ( Abdullah )’
Secara kontekstual pikiran Kartini ini seiring dengan tranformasi spiritual Kartini setelah mendalami ajaran agama Islam dengan berguru kepada Kyai Haji Sholih Darat, yang telah membuat Tafsir Alquran dengan bahasa Jawa, sehingga beliau merasa gelar kebangsawanan dan status sosial tidak lebih penting bagi beliau daripada kedudukan sebagai hamba yang selalu harus patuh kepada sang Pencipta dan inilah hakikat kecerdasan spiritual yang dimiki Kartini.
RA KARTNI INSPIRASI EMANSIPASI DAN KECERDASAN INTELEKTUAL. Surat surat RA Kartini kepada sahabatnya JH Abendanon Menteri Kebudaayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda serta Rosa Abendanon menjadi pondasi utama dari paradigma Emansipasi di bumi Nusantara kumpulan Surat RA Kartini ini kemudian dibukukan oleh Abendanon dengan judul Door Duisternis tot licht “ habis gelap terbitlah terang “.
Dalam suratnya Kartini kepada Abendanon; Kartini menggambarkan masa pingitannya sebagaai penjara yang membatasi ruang gerak dan intelektual perempuan Emansipasi bagi Kartini bukan sekedar meniru Barat melainkan hak untuk menentukan nasib sendiri dan mempunyai kebebasan berpikir. Kartini percaya bahwa pendidikan adalah kunci pembuka pintu kebebasan. Oleh Karena itu inspirasi penting yang bisa kita lakukan sebagai akademisi adalah melaui langkah strategis dengan pendekatan Agama , pendekatan intelektual, pendekatan kultural dan pendekatan struktural.
Pendekatan Inteketual melalui seminar diskusi, penelitian, tulisan buku dan karaya hasil penelitian yang dipublikasiakan di jurnal ilmiah bereputasi dan jurnak Scopus, maka persoalan persoalan penting bisa disajikan secara ilmiah, aktual dan detail. Pendekatan Agama, Melalui seminar atau penyluhan kita bisa merupakan pemberdayaan masyarakat untuk melakukan edukasi hukum bagi masyarakat, melakukan pemberdayaan Perempuan dan serta sosialisasi keadilan gender dan pentingnya memahami IT serta berupaya memberikan pengutan agar tidak terjadi kasus KDRT pelecehan Seksual dan kekerasan seksual berperspektif Islam.
Pendekatan struktural, melakukan pendekatan strukturam melalui kejasama dengan para pembuat kebijakan dengan kajian akademik agar dibuat UU atau Perda atau Pergub dan Perbub , semua delakukan untuk memberdayakan masyarakat.
Pendekatan Budaya , Dengan menganalisa dan meneliti surat RA Kartni kepada para sahabaanya yang isinya tentang emansipasi dan penolakan yang tegas terhadap budaya Patriarchi.
Harapan kepada Generasi muda khususnya perempuan, Memperingati hari Kartini tidak hanya sebatas simbolik budaya fisiknya saja misalnya dengan meekai baju kebaya dan sanggul rambut bagi perempuan. Namun hal yang paling penting justru bagaimana para generasi muda mampu dan mau memahami ide-ide cemerlang RA Kartini dalam usahanya menjadikan perempuan Nusantra menjadi perempuan yang cerdas bisa memahami nilai luhur yang telah ditegaskan didalam Al quran.
Selain itu juga mampu mengamalkannya, menjadi perempuan yang mandiri dan tidak terjajah oleh budaya Patriarki. Pentingnya pendidikan bagi perempuan sehingga perempuan mampu memberikan solusi isu-isu strategis. Misalnya dengan langkah membuat program pengabdian dan penelitian yang berbasis penyadaran secara persuasif kepada kelompok strategis seperti, nyai , kyai , dai, daiyah, tokoh masyarakat dan pejabat dengan cara dialog ataupun penyuluhan terhadap komunitas tertentu.
Editor : Viona Rj