BAGI Hermin, anggota DPRD Provinsi Jawa Timur sekaligus Ketua Srikandi Laskar Sholawat Nusantara (LSN), peringatan Hari Kartini bukan sekadar ajang memakai kebaya.
Di matanya, Kartini modern adalah perempuan yang memiliki keberanian dan kapasitas untuk mengambil keputusan di ranah publik.
Sebagai legislator yang kini duduk di Komisi C, Hermin menjadikan setiap pasal yang ia kawal sebagai instrumen perlindungan dan pemberdayaan bagi perempuan dan anak.
"Menjadi mata dan telinga bagi mereka yang suaranya tidak terdengar, adalah cara saya meneruskan perjuangan Kartini," tegasnya.
Hermin memandang fungsi pengawasan harus berdampak nyata. Ia ingin setiap regulasi dapat memberikan ruang, perlindungan, dan kesempatan yang setara.
Ibu Pejuang yang Tak Kehilangan Peran di Rumah
Sebagai perempuan yang kini telah memasuki kepala empat, Hermin menolak narasi perempuan harus memilih karier atau keluarga. Ketua Srikandi LSN ini mengutarakan, ketika urusan domestik berjalan sehat, perempuan bisa lebih optimal berkarya.
"Di rumah, saya seorang ibu dan istri yang mendengarkan cerita mereka. Jadi tidak perlu merasa bersalah punya ambisi, karena ibu yang bahagia dan tangguh akan melahirkan anak-anak yang luar biasa juga," tutur alumnus Pascasarjana UIN KHAS Jember ini.
"Jangan izinkan orang lain menentukan cerita hidupmu. Keberanian mengeksekusi mimpi dengan disiplin dan integritas adalah kunci agar kita diperhitungkan," imbuh legislator Jatim Dapil Jember - Lumajang itu. (ika/mau/bud)
Editor : Viona Rj