HALOJEMBER - Bulan Dzulhijjah telah kembali dan maknanya musim jamaah haji akan kembali berkumpul di Tanah suci untuk melakukan ibadah haji.
Bagi keluarga dan tetangga yang menanti, kepulangan mereka adalah hal yang dinanti-nanti. Selain itu menyambut kepulangan jamaah haji sudah menjadi tradisi di kalangan masyarakat Indonesia.
Dalil dan Hukum Menyambut Musafir
Dalam khazanah fikih, menyambut musafir yang kembali dari perjalanan jauh sudah menjadi diskusi atau pemikiran dari Ulama. Para ulama memperkenalkan istilah naqi'ah, yaitu jamuan makan yang dihidangkan karena kedatangan musafir. Imam an-Nawawi dalam al-Majmu' Syarah al-Muhadzdzab menegaskan bahwa naqi'ah hukumnya sunah, baik yang menyiapkan adalah musafir itu sendiri maupun pihak lain yang menyambutnya.
Baca Juga: Jemaah Haji Jember dan Dunia Lakukan Umroh Wajib, Siap Menuju Fase Ibadah Armuzna di Makkah
Praktik ini merujuk pada sejumlah hadits shahih. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa Rasulullah SAW, apabila tiba dari suatu perjalanan, para sahabat menyambut beliau, dan beliau pun menyembelih unta atau sapi sebagai jamuan.
Dalam riwayat Muslim, Abdullah bin Ja'far menuturkan, "Nabi Shallallahu alaihi wa sallam apabila pulang dari safar, kami menyambutnya. Beliau menghampiriku, Hasan, dan Husain, lalu beliau menggendong salah satu di antara kami di depan, dan yang lain mengikuti di belakang beliau, hingga kami masuk kota Madinah." Imam Al-Bukhari bahkan membuat judul bab khusus tentang jamuan ketika ada musafir yang datang, menunjukkan bahwa amalan ini memang disyariatkan.
Baca Juga: Tertawa Terpingkal-Pingkal, Jemaah Haji Ini Akting Kepedasan Demi Dapat Saos Sambal Pedas
Sehingga tradisi syukuran atau menyambut kepulangan haji yang sering di temui di masyarakat Indonesia memiliki landasan sunah dan bukan sekedar adat.
Doa yang Dianjurkan untuk Jemaah
Terdapat doa spesifik yang diajarkan untuk menyambut jemaah haji. Dilansir dari NU.Online ada seperti:
يستحب لمن يسلم على القادم من الحج أن يقول قبل الله حجك، وغفر ذنبك، وأخلف نفقتك
“Qabballallâhu hajjaka, wa ghafara dzanbaka, wa akhlafa nafaqataka”
Yang artinya: "Semoga Allah menerima ibadah hajimu, mengampuni dosamu, dan mengganti pengeluaranmu."
Doa ini selain memohon ampunan dan penerimaan ibadah, doa ini juga mendoakan agar biaya yang telah dikeluarkan selama berhaji diganti dengan rezeki yang lebih baik. Selain itu ada juga doa penyambutan jamaah sepulang dari haji seperti berikut :
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْحَاجِّ، وَلِمَنِ اسْتَغْفَرَ لَهُ الْحَاجُّ
Baca Juga: Jemaah Haji Fokus Ibadah Mandiri Jelang Puncak Armuzna, Jutaan Orang Sudah Tiba di Makkah
Artinya, “Ya Allah, ampunilah dosa jamaah haji ini dan dosa orang yang dimintakan ampun oleh jamaah haji ini.
Tradisi Penyambutan di Berbagai Daerah
Masyarakat Indonesia memiliki beragam jenis tradisi dalam menyambut jemaah haji. Di Aceh, terdapat tradisi Peusijuek yaitu menaburkan beras padi dan menyiramkan air tepung tawar dilakukan sebagai bentuk doa dan rasa syukur. Dilansir dari laporan resmi Dinas Kominfo Banda Aceh, tradisi peusijuek merupakan kearifan lokal yang bertujuan memanjatkan doa agar jemaah diberikan kesehatan dan kembali dengan predikat haji yang mabrur. Sementara di Jawa, momen sungkeman menjadi budaya yang biasa dijumpai.
Jadi dapat dikatakan bahwa cara-cara menyambut para jamaah haji sebenarnya berbeda-beda pada tiap tradisi masyarakat. Sehingga kita harus memikirkan juga kondisi jamaah serta dampak sosial, ekonomi ataupun kesehatan jamaah atau dari kita sebagai penyambut.
Segi Kesehatan yang Sering Dilupakan
Di tengah gembira penyambutan, kondisi kesehatan jemaah sering kali kurang dijadikan perhatian. Perjalanan haji adalah ibadah fisik yang menguras stamina. Data dari PPIH tahun 2026 menunjukkan bahwa Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) menjadi kasus tertinggi yang dialami jemaah—mencapai 72.100 orang yang mendapatkan pelayanan kesehatan selama musim haji, dengan ISPA, hipertensi, dan diabetes sebagai tiga besar penyebabnya.
Dr. Ira Purnamasari, Dosen FIK UM Surabaya, menjelaskan bahwa ISPA menjadi penyakit paling umum akibat kelelahan, paparan debu, dan kontak dekat dengan jemaah dari berbagai negara.
“Faktor kelelahan, cuaca ekstrem, kepadatan jutaan jemaah, dan perubahan pola hidup selama haji menjadi pemicu utamanya," kata Ira, Senin (23/6/2025) kepada awak media.
Gejalanya meliputi batuk dan demam. Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan mengimbau jemaah yang baru kembali untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala demam, batuk-pilek, atau sesak napas dalam kurun 14 hari setelah tiba di Tanah Air.
Dalam konteks inilah, menyambut jemaah haji dengan bijak berarti juga memberikan ruang bagi mereka untuk beristirahat. Tidak memaksakan bersalaman dengan terlalu banyak orang, menyediakan makanan berkuah hangat yang mudah dicerna, serta menyarankan istirahat total pada hari-hari pertama adalah bagian dari memuliakan tamu Allah.
Menyambut kepulangan jemaah haji bukanlah sekadar tradisi tahunan yang berulang. Ia adalah amalan yang memiliki landasan syariat, dibalut dengan kearifan lokal, dan menuntut perhatian ketika para jamaah haji telah menempuh perjalanan fisik paling melelahkan dalam hidup seorang muslim adalah kurang bijak. Dengan pemahaman ini, sambutan yang kita berikan tidak hanya hangat, tetapi juga penuh berkah. (mg4)
Editor : Hariri HJ