HALOJEMBER - Mengajukan kredit dapat menjadi solusi untuk memenuhi berbagai kebutuhan, mulai dari membeli rumah, kendaraan, hingga membiayai usaha. Namun, sebelum mengajukan pinjaman, ada satu hal yang tidak boleh diabaikan, yaitu menghitung kemampuan membayar cicilan.
Banyak orang hanya berfokus pada besarnya pinjaman yang bisa diperoleh tanpa mempertimbangkan apakah cicilan tersebut sesuai dengan kondisi keuangan. Akibatnya, anggaran bulanan menjadi terbebani dan risiko gagal bayar pun meningkat.
Lantas, bagaimana cara mengetahui kemampuan cicilan yang ideal? Simak panduan berikut.
Mengapa Perlu Menghitung Kemampuan Cicilan?
Menghitung kemampuan cicilan sebelum mengajukan kredit sangat penting agar kondisi keuangan tetap stabil. Dengan mengetahui batas kemampuan membayar, Anda dapat:
- Menghindari beban cicilan yang berlebihan.
- Menjaga arus kas bulanan tetap sehat.
- Memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa terganggu.
- Mengurangi risiko keterlambatan pembayaran.
- Menjaga riwayat kredit tetap baik.
Perencanaan yang matang juga membuat Anda lebih tenang dalam menjalani masa pembayaran kredit.
Gunakan Aturan Maksimal 30–35% dari Penghasilan
Salah satu cara yang paling umum digunakan adalah menerapkan aturan bahwa total cicilan bulanan sebaiknya tidak melebihi 30–35% dari penghasilan bulanan. Persentase ini dianggap cukup aman karena masih menyisakan dana untuk kebutuhan pokok, tabungan, investasi, dan dana darurat.
Contoh Perhitungan
Misalnya Anda memiliki penghasilan sebesar Rp8.000.000 per bulan.
Perhitungan kemampuan cicilan:
- 30% × Rp8.000.000 = Rp2.400.000
- 35% × Rp8.000.000 = Rp2.800.000
Artinya, total seluruh cicilan yang Anda miliki sebaiknya berada di kisaran Rp2.400.000–Rp2.800.000 per bulan.
Apabila Anda sudah memiliki cicilan lain sebesar Rp1.000.000 setiap bulan, maka sisa kemampuan untuk mengambil kredit baru sekitar Rp1.400.000–Rp1.800.000.
Hitung Seluruh Pengeluaran Bulanan
Selain melihat besarnya penghasilan, Anda juga perlu mengetahui ke mana saja uang digunakan setiap bulan.
Beberapa pengeluaran yang perlu dihitung antara lain:
- Biaya makan dan kebutuhan sehari-hari.
- Tagihan listrik, air, internet, dan telepon.
- Biaya transportasi.
- Pendidikan anak.
- Premi asuransi.
- Dana darurat dan tabungan.
- Kewajiban cicilan yang sudah berjalan.
Dengan mengetahui total pengeluaran, Anda dapat menentukan apakah masih tersedia ruang untuk menambah cicilan baru.
Jangan Lupakan Dana Darurat
Kesalahan yang sering terjadi adalah mengalokasikan hampir seluruh sisa penghasilan untuk membayar cicilan. Padahal, kondisi tak terduga seperti biaya kesehatan, perbaikan kendaraan, atau kehilangan pekerjaan bisa terjadi kapan saja.
Idealnya, setelah membayar cicilan dan kebutuhan rutin, Anda masih memiliki dana yang dapat disisihkan sebagai tabungan atau dana darurat.
Pertimbangkan Jangka Waktu Kredit
Besarnya cicilan juga dipengaruhi oleh tenor atau jangka waktu pinjaman.
- Tenor lebih pendek biasanya memiliki cicilan bulanan lebih besar, tetapi total bunga yang dibayarkan lebih kecil.
- Tenor lebih panjang membuat cicilan bulanan lebih ringan, namun total bunga yang dibayar cenderung lebih besar.
Pilih tenor yang memberikan keseimbangan antara kemampuan membayar dan total biaya kredit.
Evaluasi Stabilitas Penghasilan
Sebelum mengambil kredit, pastikan penghasilan Anda cukup stabil. Jika memiliki pendapatan yang tidak tetap, gunakan rata-rata penghasilan beberapa bulan terakhir sebagai dasar perhitungan.
Hindari mengambil cicilan berdasarkan perkiraan bonus atau pendapatan yang belum pasti diterima.
Menghitung kemampuan cicilan merupakan langkah penting sebelum mengajukan kredit. Dengan memahami kondisi keuangan secara menyeluruh, Anda dapat menentukan besaran cicilan yang sesuai tanpa mengorbankan kebutuhan sehari-hari maupun tujuan keuangan lainnya.
Editor : Viona Rj