“Kalau ada guncangan terlalu keras, bisa menyebabkan pendarahan di dalam rongga kepala bayi.”
dr Muhammad Ali Shodikin SpA
Dokter spesialis anak RSD dr Soebandi Jember
HALOJEMBER.COM - Mengayunkan bayi merupakan salah satu hal yang lumrah dilakukan. Namun, hal tersebut tidak disarankan terlalu keras, karena bisa berdampak buruk bagi pertumbuhan anak. Termasuk menyebabkan shaken baby syndrome.
Jika tidak ditangani dengan tepat, hal tersebut bisa membuat bayi mengalami hal yang tidak diinginkan. Seperti lumpuh, tidak bisa melihat, hingga tidak bisa mendengar.
Dokter spesialis anak RSD dr Soebandi Jember, dr Muhammad Ali Shodikin SpA, mengatakan, shaken baby syndrome merupakan adanya kumpulan gejala penyakit yang terjadi setelah bayi mendapatkan guncangan pada kepalanya.
Baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Salah satu penyebab yang tidak disengaja adalah mengayunkan bayi ke kanan, ke kiri, ke atas, dan ke bawah dengan keras.
Tulang leher pada bayi belum kuat, sehingga akan berlanjut ke dalam otak. Pada saat itu, otak dan pembuluh darah pada bayi juga masih sangat halus dan rentan pecah.
Dengan demikian, terjadi pergeseran kuat sehingga timbul pendarahan dalam otak. Secara kasat mata kejadian tersebut memang sulit diamati secara langsung.
Hal inilah yang menyebabkan terjadinya kumpulan gejala penyakit atau shaken baby syndrome. “Biasanya, yang terlihat gejala-gejalanya terlebih dahulu,” imbuhnya.
Pria yang juga dosen Fakultas Kedokteran Universitas Jember itu menjelaskan, gejala pada bayi penderita shaken baby syndrome biasanya berupa kejang, penurunan kesadaran, lemas, tidak mau makan, hingga pucat.
Tak heran orang tuanya akan datang ke fasilitas kesehatan ketika mengalami gejala tersebut. Tanpa menyadari bahwa hal itu disebabkan adanya guncangan yang cukup keras.
“Kalau ada guncangan terlalu keras bisa menyebabkan pendarahan di dalam rongga kepala bayi,” tegasnya.
Jika bayi yang mengalami gejala tersebut, biasanya petugas kesehatan akan melakukan berbagai upaya. Termasuk melakukan pemeriksaan fisik, uji laboratorium, hingga pemeriksaan CT Scan kepala pada bayi itu.
Sebelum dilakukan berbagai tindakan yang dibutuhkan. Jika kondisinya parah, biasanya akan dilakukan tindakan operasi.
Jika tidak, biasanya hanya berupa terapi dan pemberian obat saja. Termasuk menambah darah merah untuk mencukupi kebutuhan darahnya.
BACA JUGA: Penanganan Batu Empedu Tak Harus Operasi, Perlu Lakukan Deteksi dan Penanganan Lebih Dini
Jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat, biasanya tumbuh kembang bayi akan terganggu. Pendarahan yang terjadi, menurut dr Ali, akan mendesak otak. Jika desakannya kuat dapat menyebabkan kejang hingga penurunan kesehatan.
Jika tak ditangani dengan cepat akan menimbulkan kerusakan permanen pada otak. Dengan demikian, tidak tertutup kemungkinan terjadi kelumpuhan pada bagian tubuh tertentu.
“Kalau terlambat tidak bisa ditangani hingga kembali sempurna. Nanti ada gejala sisanya yang berkepanjangan,” pungkasnya. (ham/c2/fid)
Editor : Halo Jember