“Kalau persalinan pervaginam dan tanpa penyulit, misal pagi masuk (faskes, Red) sore keluar, itu sudah bisa.”
dr Nurlaili Triakusuma
Dokter Klinik Rolas Medika Banjarsari
HALOJEMBER.COM- Persalinan pervaginam dan Caesar sering menjadi pertimbangan bagi ibu hamil sebelum melahirkan. Keduanya sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Salah satu pertimbangan pelaksanaan metode tersebut adalah kondisi sang ibu ketika akan melahirkan. Keduanya juga memiliki tujuan yang sama, yakni memastikan persalinan lancar, serta ibu dan bayi selamat.
Dokter Klinik Rolas Medika Banjarsari, dr Nurlaili Triakusuma, menjelaskan, persalinan pervaginam merupakan proses lahirnya bayi yang dilakukan dengan tenaga ibu itu sendiri. Tanpa bantuan alat pendukung.
BACA JUGA:
Biasanya, hanya dibantu oleh bidan atau dokter saja.
Untuk melakukan hal tersebut, ibu dan bayi harus dalam keadaan sehat. Dengan demikian, tidak menimbulkan hal yang tidak diinginkan.
“Posisi saat bayi di dalam kandungan itu adalah presentasi kepala, gitu. Usia kandungan juga sudah cukup bulan,” katanya.
Persalinan pervaginam prosesnya tidak lebih dari 12 jam. Jika melebihi waktu tersebut, biasanya akan dilakukan tindakan atau intervensi lain, termasuk Caesar.
BACA JUGA:
Sebelum menggunakan metode pervaginam, ibu hamil disarankan untuk memeriksakan kehamilannya secara rutin.
Dengan demikian, bisa dipastikan metode apa yang aman digunakan saat proses persalinan.
Perempuan yang akrab disapa dr Lili itu juga menjelaskan, persalinan Caesar merupakan tindakan yang harus dilakukan di ruang operasi. Dengan bantuan dokter ahli dalam bidangnya.
Dia juga menyebut, dua metode yang bisa diterapkan sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Menurutnya, persalinan terbaik adalah persalinan yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan bayi dan ibunya.
Jika ditemukan kendala untuk melakukan persalinan pervaginam, maka disarankan untuk melakukan persalinan dengan metode Caesar.
Salah satu manfaat yang bisa didapatkan dengan metode persalinan pervaginam, menurutnya, adalah merangsang hormon oksitosin lebih bagus, sehingga proses produksi air susu ibu (ASI) juga menjadi lebih baik.
Selain itu, masa penyembuhan atau recovery dianggap lebih cepat. Sebab, tidak dilakukan pembedahan.
“Kalau persalinan pervaginam dan tanpa penyulit, misal pagi masuk (faskes, Red) sore keluar, itu sudah bisa,” imbuhnya.
Persalinan Caesar dilakukan dengan membuat sayatan melintang di perut dan rahim ibu.
Dari tindakan itu, ada sejumlah manfaat yang bisa dirasakan. Di antaranya dapat memilih waktu bersalin, hingga mengurangi risiko cedera kelahiran.
“Metode Caesar lebih dianjurkan untuk ibu hamil yang memiliki komplikasi kehamilan,” pungkasnya. (ham/c2/fid)
Editor : Halo Jember