HALOJEMBER.COM - Pembicaraan mengenai Generasi Z atau yang sering disebut Gen Z saat ini tengah ramai di media sosial. Hal tersebut karena munculnya stigma bahwa Gen Z dianggap lemah.
Mereka yang lahir di tahun 1997 sampai 2012 dianggap tidak memiliki mental yang kuat terutama di dunia kerja.
Berikut beberapa penyebab yang mengakibatkan Gen Z disebut lemah:
- Penggunaan Media Sosial
Hampir seluruh Generasi Z pasti memiliki media sosial pribadi. Hal itu, karena mereka sangat melek teknologi. Efek dari telalu melekatnya Gen Z dengan media sosial mengakibatkan penggunaannya menjadi ekstrem.
Bahkan, mereka mampu menghabiskan waktu 3 sampai 4 jam dalam sehari untuk aktif di media sosial.
BACA JUGA: Waspada Paparan BPA! Ini 4 Penyakit Kronis yang Bisa Mengintai Kesehatan Anda
Morning Consult Pro dalam Forbes mengatakan, penggunaan media sosial yang berlebihan akan memengaruhi ego dan kesehatan mental Gen Z di tempat kerja.
Hal tersebut memungkinkan mereka untuk membandingkan kualitas hidupnya dengan orang lain. Dengan demikian, akan timbul dorongan untuk menuntut benefit yang lebih agar setara dengan orang lain
- Kurangnya Motivasi dan Produktivitas
Dilansir dari penelitian yang dilakukan oleh Resume Buidler, terdapat 74 persen manager atau pemimpin perusahaan yang menganggap bahwa gen z lebih sulit diajak bekerja sama. Dengan demikian, menunjukkan kurangnya motivasi dan produktivitas pada gen z.
BACA JUGA: 8 Keistimewaan Turu Ndlosor atau Tidur Tanpa Alas Menurut Ahli Spiritual Jawa, Apa Saja?
Pendapat lain dari Marketing Director Hairbro Adam Garfield menyebutkan, sebenarnya Gen Z memiliki inovasi besar dan kemampuan adaptasi yang baik. Mereka dianggap mampu menghadapi tantangan baru dan memberikan ide-ide cemerlang.
Mereka memegang teguh nilai transparansi dan etika yang mendorong perusahaan untuk melakukan bisnis secara bertanggungjawab dan beretika. Berbeda dari generasi sebelumnya yang menggunakan status quo.
BACA JUGA: Waspada! Tidur Siang Terlalu Lama Berbahaya bagi Tubuh
- Suka Pindah-pindah Pekerjaan
Istilah job hopping atau suka berpindah pindah pekerjaan tersebut biasanya dilakukan bukan karena kemauan pribadi. Terdapat beberapa faktor dari luar seperti perubahan ekonomi dan pergeseran minat konsumen yang tinggi.
Berdasarkan survei oleh McKinsey & Company, kelompok muda ini biasanya memiliki pekerjaan lebih dari satu untuk memenuhi kebutuhan finansial mereka.
Mereka memutuskan untuk berpindah pekerjaan bisa saja karena gaji yang mereka terima tidak sesuai dengan apa yang mereka lakukan atau seringkali usaha mereka sering kurang dihargai.
Alasan lain mereka memutuskan untuk berpindah pekerjaan yakni mereka cukup fleksibel untuk memaksimalkan potensi diri di tempat lain. Sebab, mereka belum menikah sehingga tidak ada tanggung jawab untuk menafkahi seseorang.
- Lebih Mengutamakan Karir dan Pengembangan Diri.
Tak jarang pula Genereasi Z ini berani mengomunikasikan tantangan yang mereka hadapi di tempat kerja kepada atasan.
Mereka juga berani meminta pengembangan keterampilan agar wawasan mereka bertambah serta tidak takut dengan risiko yang akan mereka hadapi.
Sebenarnya. mereka bukan generasi antikritik. Terlebih jika untuk mengembangkan karir mereka. Namun, mereka menginginkan pengembangan yang berkaitan dengan isu kesehatan mental di tempat kerja.
Gen Z cukup rinci dalam mengomunikasikan manfaat yang akan mereka dapat di tempat kerja. Hal tersebut menimbulkan pandangan yang berbeda dari generasi sebelumnya dengan mereka para Gen Z.
Dilansir dari survei yang dilakukan oleh McKinsey & Company, Gen Z mempertimbangkan lima hal sebelum memutuskan untuk bergabung dengan sebuah perusahaan. Yaitu lingkungan kerja yang bersahabat, isu kesehatan mental yang diprioritaskan, akses transportasi ke tempat kerja, adanya kesempatan untuk menunjukkan pencapaian, dan pertimbangan terkait kesehatan fisik.
Penulis: Delia Enggar Sugiana
Editor : Halo Jember