Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Bikin Merasa Miskin, Apa Itu Money Dysmorphia yang Lagi Dialami Gen Z dan Milenial

Alvioniza • Selasa, 6 Agustus 2024 | 16:15 WIB
Foto: cottonbro studio/Pexels.com
Foto: cottonbro studio/Pexels.com

HALOJEMBER.COM - Kebebasan finansial adalah impian yang diidamkan oleh semua orang. Namun, di era ini, ketidakstabilan ekonomi dan melonjaknya biaya hidup membuat banyak anak muda merasa pesimis akan kemampuan mereka untuk mencapainya.

Hal ini berdampak pada munculnya fenomena yang dikenal sebagai 'money dysmorphia,' yang membuat generasi Z dan milenial merasa tidak aman secara finansial dan merasa miskin.

Istilah 'money dysmorphia’ digunakan untuk menggambarkan pandangan yang menyimpang tentang keuangan seseorang. Gangguan ini membuat anak muda merasa miskin dan tidak cukup kaya, meskipun sebenarnya mereka tidak begitu.

BACA JUGA: Waspada! Anak Bisa Terkena Dry Eye. Kenali Tanda dan Penyebabnya

Studi terbaru dari Credit Karma mengungkapkan bahwa 43% generasi Z dan 41% milenial memiliki persepsi yang keliru mengenai kondisi ekonomi mereka.

Persepsi ini tidak hanya membuat mereka cemas, tetapi juga berpotensi menyebabkan pengambilan keputusan finansial yang keliru.

Menurut Amanda Clayman, seorang terapis finansial, money dysmorphia adalah pandangan negatif dan tidak realistis terhadap situasi finansial seseorang.

Meskipun kekhawatiran ekonomi bukanlah hal baru, tantangan yang dihadapi oleh setiap generasi berbeda-beda.

Saat ini, anak muda lebih banyak terpapar informasi dan kehidupan orang lain, yang mempengaruhi cara pandang mereka terhadap keuangan.

BACA JUGA: Aturan 8+8+8 ini Bisa Membuat Keseimbangan Kehidupan Kerja Kamu Sempurna Lho

Generasi Z dan milenial tidak hanya terpengaruh oleh keinginan untuk mencapai apa yang dimiliki orang lain, tetapi juga oleh berbagai berita yang beredar.

Laporan tentang naiknya harga properti, biaya membesarkan anak, serta perusahaan besar yang bangkrut hingga isu penyakit yang mewabah, menambah ketakutan mereka terhadap masa depan dan kondisi keuangan.

Di sisi lain, masyarakat berlomba untuk mencari sebanyak mungkin sumber pendapatan.

Metode tradisional seperti mengandalkan dana pensiun mulai dianggap ketinggalan zaman, terutama dengan adanya inflasi.

BACA JUGA: Picu Infertilitas hingga Kista, Kenali Bahaya BPA bagi Wanita

Berdasarkan riset, 45% generasi Z dan milenial tidak hanya ingin menjadi kaya tetapi juga terobsesi untuk mencapainya.

Ketika obsesi ini memicu money dysmorphia, dampaknya bisa merugikan, terutama jika mempengaruhi cara mereka mengelola keuangan.

Untuk menghindari money dysmorphia, diperlukan langkah-langkah yang lebih proaktif. Salah satunya adalah dengan membatasi penggunaan media sosial yang memicu kecemasan.

Selain itu, penting untuk membekali diri dengan informasi keuangan yang sehat dan mulai menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan cara ini, generasi muda dapat membangun fondasi finansial yang lebih kuat dan realistis, serta mencapai kebebasan finansial yang diimpikan.

 

Penulis: Sufi Binti Khofifah

Editor : Halo Jember
#milenial #Gen Z #Money dysmorphia