Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Stres Saat Hamil, Timbulkan Dampak Berbahaya bagi Ibu dan Janin

Halo Jember • Kamis, 29 Agustus 2024 | 21:00 WIB

 

Ilustrasi ibu hamil yang mengalami stres. Foto: iStock
Ilustrasi ibu hamil yang mengalami stres. Foto: iStock

HALOJEMBER.COM - Dukungan terhadap ibu hamil atau baru melahirkan perlu diberikan untuk memastikan bahwa anak tumbuh dan berkembang dengan baik.

Ibu hamil akan mengalami banyak perubahan mulai dari fisik hingga psikis serta perubahan hormonal.

Pada trimester pertama, hormon akan meningkat dalam tubuh wanita. Hormon tersebut yakni estrogen dan progesteron. Kemudian, ada pula hormon kehamilan yang biasanya mengakibatkan mual atau muntah yaitu hormon beta chorionic gonadotropin (beta hCG).

Ketiga hormon tersebut cukup berpengaruh terhadap perubahan psikis ibu hamil. Dengan demikian, ibu hamil akan merasa lebih sedih, menangis, dan mudah marah-marah.

Dikutip dari laman resmi Antara, terdapat sebuah survei yang dilakukan oleh Teman Bumil kepada 1.504 ibu hamil yang menunjukkan sebanyak 64,6 persen mengaku lebih mellow dan sering sedih, sementara 38,4 persen mengatakan bahwa mereka merasa lebih stress selama hamil.

Tak hanya masalah hormonal, terdapat faktor eksternal yang memicu ibu hamil tidak bahagia atau stres antara lain karena kondisi finansial yang belum stabil, masalah kehamilan yang cukup mengganggu.

Kemudian belum atau sulit menyiapkan biaya persalinan, masih harus bekerja atau mengurus seluruh pekerjaan rumah tangga sendirian, serta menjalani kehamilan sembari mengurus anak.

Stres saat hamil adalah sesuatu yang wajar dialami wanita yang sedang mengandung. Namun, jika berlebihan sampai ibu hamil merasa kewalahan dapat menimbulkan dampak kesehatan yang serius.

Dampak stres pada ibu hamil yakni dapat menyebabkan sakit kepala, napas menjadi lebih cepat, jantung berdebar, nafsu makan berubah, serta ibu hamil yang stres akan mengalami gangguan tidur.

Jika tidak segera dikendalikan, stres pada ibu hamil tidak hanya berpengaruh terhadap sang ibu saja tetapi pada janin yang ada di dalam kandungan.

Berikut penjelasan mengenai bahaya stres bagi ibu hamil dan janin yang wajib diketahui.

Bagi ibu yang mengandung

Ibu hamil yang mengalami stres akan memicu peningkatan risiko melahirkan dalam keadaan prematur mencapai 25 hingga 60 persen.

Dampak lainnya yakni ibu hamil akan lebih mudah terkena preeklampsia dan diabetes gestasional.

Preeklampsia adalah kondisi terjadinya peningkatan tekanan darah dan kelebihan protein dalam urine pada usia kehamilan lebih dari 20 minggu.

Sedangkan diabetes gestasional adalah diabetes yang berlangsung saat kehamilan hingga proses persalinan.

Bagi janin yang ada di dalam kandungan

Stres juga dapat berdampak pada janin. Dampak tersebut yakni risiko Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), peningkatan risiko kelainan jantung bawaan, serta risiko anak dengan autisme.

Jika kortisol pada ibu meningkat maka kortisol pada janin juga ikut meningkat. Hal tersebut dapat mempengaruhi fungsi bagian tubuh tertentu pada otak dan akan berpengaruh terhadap tumbuh kembang sang janin.

Pertumbuhan plasenta dapat terhambat saat ibu hamil mengalami stres.

Pada kondisi stres yang berat maka tubuh akan memproduksi krotisol secara berlebihan. Dengan demikian, pertumbuhan plasenta akan mengalami penurunan.

Akibatnya, plasenta pada ibu hamil yang stres akan berukuran lebih kecil dibanding ibu hamil yang kondisinya sehat.

Sebagai informasi, plasenta berfungsi untuk menyuplai oksigen dan nutrisi kepada janin serta membuang sisa metabolisme yang tidak dibutuhkan oleh janin.

Penulis: Delia Enggar Sugiana

 

Editor : Halo Jember
#ibu hamil #hamil #stress