HALOJEMBER - Keberadaan kopi luwak liar asli lereng Gunung Semeru Lumajang awalnya berasal dari keresahan petani.
Produktivitas panen biji kopi yang menurun karena keberadaan luwak sempat meresahkan di sejumlah titik wilayah Kota Pisang.
Hingga akhirnya menjadikan musang luwak sempat menjadi hama.
Proses panjang sejak 2016 silam membuat produsen kopi luwak liar mulai bermunculan di Lumajang.
Hingga akhirnya kini tersisa satu produsen saja di Desa Nguter, Kecamatan Pasirian yang masih berjalan.
"Awalnya itu produktivitas panen petani kopi di lereng Semeru menurun, disinyalir oleh hama luwak yang menyerang. Kemudian dari sana kami berusaha mengedukasi petani dan buruh kebun untuk mengumpulkan kotoran luwak," ungkap produsen kopi luwak, Muhammad Rival Muzaki.
Untuk bisa membuat satu gelas seduhan minuman dari kopi luwak proses yang dilewati cukup panjang.
Mulai dari tahap mengumpulkan kotoran luwak, kemudian proses pencucian sebanyak tujuh kali juga dilakukan.
Kemudian masuk dalam proses penjemuran sampai kering.
"Ada juga proses sortir biji menurut varietasnya, karena dari kotoran luwak itu juga sering ada campuran dengan biji-bijian lain. Selanjutnya pemisahan biji kopi dengan kulit tanduknya hingga akhirnya masuk dalam tahap sangrai," tambah Rival.
Peminat kopi luwak liar lereng Gunung Semeru tidak hanya sebatas dari masyarakat di Indonesia.
Tidak sedikit negara Asia, Eropa, Timur Tengah hingga Amerika yang selalu memasok biji kopi luwak liar dari Lumajang.
"Ada beberapa negara kerjasama, rutin setiap bulan mengambil kopi tapi tidak banyak karena keterbatasan bahan dari hutan. Kalau harga untuk domestik itu 400 ribu, sedangkan untuk mancanegara itu kisar Rp 1 jutaan," pungkasnya. (has/mau)
Editor : Halo Jember