Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Suwar Suwir

Mental Illnes: Mengapa Remaja Enggan Konsultasi?

Halo Jember • Kamis, 5 Desember 2024 | 19:00 WIB

 

Ilustrasi masalah kesehatan mental (Freepik)
Ilustrasi masalah kesehatan mental (Freepik)

HALOJEMBER – Masalah kesehatan mental remaja di Indonesia menjadi perhatian yang perlu dikhawatirkan. Data dari hasil survei Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey pada 2022 mengungkapkan bahwa 34, persen remaja di Indonesia menghadapi masalah kesehatan mental.

Namun, hanya 2 persen dari mereka yang mengalami permasalahan emosional dan perilaku telah mendapatkan bantuan melalui konseling.

Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar remaja belum menerima dukungan profesional yang mereka butuhkan.

Terlebih masalah kesehatan mental ini biasanya sering kali menyerang orang-orang dari transisi masa remaja akhir menuju dewasa.

Meski begitu, masih banyak dari mereka yang enggan untuk melakukan konsultasi kepada ahlinya.

Hal ini mungkin dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti:

  1. Stigma sosial

Kesehatan mental sering kali masih dianggap hal tabu di masyarakat. Banyak dari mereka yang takut dianggap lemah, gila atau bermasalah jika mengakui bahwa mereka memiliki gangguan mental.

  1. Kurangnya Pemahaman tentang Kesahatan Mental

Beberapa remaja mungkin tidak menyadari atau memahami tentang kesehatan mental dan pentingnya menjaga kondisi tersebut. Mungkin mereka juga tidak menyadari apakah mengalami gangguan mental atau tidak tahu bahwa ada bantuan yang tersedia untuk menangani masalah ini.

  1. Rasa Malu dan Takut

Berbicara tentang masalah pribadi atau perasaan mungkin bisa sangat sulit bagi beberapa orang, terutama bagi mereka yang merasa malu dan tidak nyaman untuk membuka diri kepada orang lain, bahkan ke ahli kesehatan. Mereka juga bisa merasa takut terhadap apa yang akan dikatakan orang lain atau dari konsekuensi sosial dari mengungkapkan masalah mereka menjadi penghalang besar.

  1. Minimnya Dukungan dari Lingkugan

Kurangnya dukungan dari keluarga, teman atau orang terdekat juga dapat menghalangi mereka untuk mencari bantuan. Bahkan, beberapa keluarga sekalipun tidak memahami pentingnya konsultasi mental dan menganggap masalah mental ini hanya fase atau kelemahan tersendiri bagi dirinya. Sehingga mereka akan enggan untuk mencari bantuan.

  1. Tidak Merasa Masalahnya Cukup Serius

Beberapa remaja merasa bahwa masalah mereka tidak seburuk itu, sehingga tidak perlu mencari bantuan profesional. Mereka mungkin memilih untuk menyimpan masalah sendiri hingga situasinya memburuk.

  1. Ketidakpercayaan pada Profesional

Ada remaja yang merasa ragu dengan efektivitas terapi atau bantuan psikologis. Mereka mungkin tidak percaya bahwa seorang profesional dapat benar-benar memahami atau membantu mengatasi masalah mereka.

  1. Takut Dihakimi

Generasi muda ini biasanya juga merasa khawatir akan dihakimi oleh orang tua, teman, atau bahkan profesional yang seharusnya membantu mereka. Perasaan ini mencegah mereka untuk berbicara terbuka tentang masalah mereka.

Untuk mencegah hal ini terjadi secara terus menerus, mengurangi stigma dan meningkatkan edukasi tentang pentingnya kesehatan mental menjadi langkah awal yang sangat penting.

Dukungan dari keluarga, teman, serta lingkungan sekolah juga dapat menciptakan ruang aman bagi remaja untuk berbicara.

Selain itu, memperluas akses ke layanan kesehatan mental dengan biaya yang terjangkau dan pendekatan yang ramah remaja dapat membantu mereka lebih percaya diri untuk mencari bantuan.

Penulis: Audya Amalia Mufida

 

 

 

Editor : Halo Jember
#kesehatan mental #mental illness #remaja