HALOJEMBER – Satu dari tiga remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Latar belakang itu membuat UKM Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Socialitice dari Fakultas Ilmu Politik dan Ilmu Sosial (FISIP) Universitas Jember (Unej) menggelar seminar bertajuk Rhythm of Recovery: Terapi Musik untuk Kesehatan Mental.
Acara yang digelar di Gedung CDAST, Unej, Sabtu (30/11) tersebut, bertujuan membantu generasi muda, khususnya para mahasiswa yang mengalami stres akibat tekanan akademik, hubungan pribadi, percintaan, hingga karir. Untuk memahami cara menjaga atau mengatasi kesehatan mentalnya melalui musik.
Psikolog dari Biro Psikolog Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember, Anis Irmala Sandy MPsi, menjelaskan bahwa kesehatan mental merupakan sebuah kondisi yang memengaruhi perilaku, pikiran, juga perasaan seseorang.
“Untuk mengatasi berbagai tantangan ini, musik dapat menjadi salah satu metode efektif yang dapat digunakan,” ucapnya.
Melalui pengalaman mendalam dengan musik, menurutnya, individu juga bisa lebih mudah mengatasi konflik batin dan kesulitan emosional yang sering kali berhubungan dengan aspek id, ego, dan superego.
Selain itu, musik bisa menjadi sarana ekspresi alternatif bagi mereka yang sulit mengungkapkan perasaan emosional secara langsung.
Dengan genre yang beragam, musik yang digunakan dalam penyembuhan pun berbeda-beda. Bergantung pada kondisinya.
“Memainkan musik yang calm dapat mengurangi stres dan cemas. Musik up-beat dapat meningkatkan mood dan motivasi. Sedangkan musik yang galau dapat meningkatkan emosi ketidakberdayaan,” tuturnya.
Dia menjelaskan, musik termasuk bagian dari mengekspresikan diri. Oleh karena itu, terapi dengan musik juga bisa menjadi cara menyehatkan mental seseorang.
“Seperti menyanyi, menari, melukis, journaling, make-up, maupun kegiatan yang dapat digunakan untuk menunjukkan ekspresi emosional dalam diri,” tuturnya.
Anis memaparkan bahwa dari hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 2022 oleh Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), sebanyak 1 dari 3 remaja memiliki masalah kesehatan mental.
Atau sekitar 34,9 persen yang setara 15,5 juta remaja Indonesia memiliki masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Sementara, hanya 2,6 persen remaja dengan masalah kesehatan mental yang mengakses layanan konseling. (mm6/c2/dwi)
Editor : Halo Jember