HALOJEMBER – Masalah kesehatan mental saat ini menjadi perhatian yang serius, terutama bagi remaja akhir yang sedang berada dalam masa transisi menuju kedewasaan.
Berdasarkan data dari survei Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey tahun 2022, sebanyak 34,9 persen remaja di Indonesia menghadapi masalah kesehatan mental.
Namun, hanya sekitar 2 persen dari mereka yang mengalami gangguan emosional dan perilaku yang mendapatkan bantuan melalui konseling.
Fakta ini menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental tidak boleh dianggap sepele. Jika tidak ditangani dengan tepat, dampaknya bisa menjadi lebih serius, baik bagi individu yang bersangkutan maupun bagi orang di sekitarnya.
Krisis kesehatan mental seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara lain, salah satunya Singapura.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Duke-NUS Medical School dan Institute of Mental Health (IMH) terhadap para orang tua di Singapura, sekitar 16,2 persen remaja di negara tersebut mengalami gejala yang mengindikasikan depresi atau kecemasan.
Namun, hanya 15 persen dari mereka yang mendapatkan bantuan dari tenaga kesehatan profesional.
Secara global, laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa satu dari tujuh anak berusia 10-19 tahun mengalami gangguan kesehatan mental, dengan total sekitar 13 persen dari beban penyakit global terjadi pada kelompok usia ini.
Penyebab utama masalah kesehatan dan kecacatan di kalangan remaja adalah depresi, kecemasan, serta gangguan perilaku. Lebih tragis lagi, tindakan bunuh diri menjadi salah satu penyebab utama kematian pada kelompok usia 15-19 tahun.
Mengapa Anak Muda Rentan Terkena Masalah Kesehatan Mental?
Generasi muda, khususnya Generasi Z, menghadapi berbagai faktor yang membuat mereka lebih rentan terhadap masalah kesehatan mental. Faktor-faktor tersebut dapat meliputi tekanan hidup, kurangnya kematangan otak dan mental, serta paparan informasi yang berlebihan menjadi pemicu utama gangguan kesehatan mental pada kelompok ini.
Selain itu, usia muda dalam Generasi Z adalah masa perkembangan yang rentan terhadap kecemasan akan Fear of Missing Out (FOMO) dan perasaan penghargaan diri atau self-esteem. Kekhawatiran ini sering kali diperburuk oleh tekanan sosial yang muncul di dunia maya.
Banyak dari mereka juga mengalami masa-masa sulit karena tumbuh di tengah pandemi COVID-19. Situasi pandemi memaksa mereka untuk menjaga jarak fisik dan sosial, yang mengubah dinamika kehidupan secara drastis.
Dampaknya mencakup perasaan kesepian, kecemasan terhadap ketidakpastian, kelelahan fisik dan emosional (burnout), serta keterbatasan dalam berinteraksi langsung dengan teman sebaya. Semua ini berkontribusi pada meningkatnya risiko gangguan kesehatan mental di kalangan Generasi Z.
Cara Mengatasi Gangguan Kesehatan Mental pada Anak Muda
Untuk mengatasi gangguan atau masalah kesehatan mental pada anak muda dapat dilakukan dengan berbagai cara. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh seorang psikolog klinis dari Biro Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember bernama Anis Irmala Sandy, S.Psi., M.Psi., Psikolog. terdapat beberapa cara praktis untuk mengontrol mental yang kurang stabil yaitu;
- Relaksasi
Kegiatan relaksasi dapat mencakup relaksasi nafas dan melakukan yoga atau mindfullnes. Dengan relaksasi, Anda akan lebih fokus pada pernapasan, mengurangi pikiran yang menganggu dan meningkatkan kesadaran diri.
- Olahraga
Dengan berolahraga dapat menghasilkan endorphin yaitu senyawa kimia dalam otak yang bisa meningkatkan mood dan mengurangi stress. Kegiatan olahraga ini dapat dilakukan dengan bersepeda, pergi ke pusat olahraga atau gym, hingga mendaki gunung.
- Mengatur Pola Makan dan Tidur
Tidak hanya melakukan kegiatan yang melibatkan fisik dan pikiran, namun juga asupan dan pola tidur yang diperlukan tubuh juga harus diperhatikan. Seperti mengatur pola makan-makanan sehat secara teratur dan tidur minimal 8 Jam.
- Mengekspresikan Diri
Untuk kegiatan ini dapat dilakukan dengan menyanyi, menari, melukis, journaling, makeup maupun kegiatan lainnya yang dapat digunakan untuk menunjukkan ekspresi emosional dalam diri.
Penulis: Audya Amalia Mufida
Editor : Halo Jember