HALO JEMBER- Beberapa waktu lalu, ramai dibicarakan tren rilis produk kecantikan dari brand lokal maupun brand luar. Produk kecantikan yang unik-unik dikeluarkan masing masing brand untuk menarik banyak pembeli, dan rilis produk begitu cepat berganti hampir setiap bulan. Fenomena ini akhirnya disebut dengan Fast beauty.
Fast Beauty merupakan tren kecantikan yang mengarah pada produksi cepat dengan bahan yang murah untuk memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.
Fenomena ini cukup mirip dengan fast fashion di industri pakaian, namun ini terjadi pada produk kecantikan. Tren ini tengah berlangsung di Indonesia karena lonjakan minat konsumen.
Baca Juga: Pashmina Viscose Bakal Jadi Tren Gaya Hijab Lebaran
Sebetulnya, fenomena fast beauty memberikan keuntungan bagi brand lokal skincare. Bahkan, dengan inovasi barunya, brand skincare lokal Indonesia bisa bersaing dengan produk internasional.
Namun, disamping itu beberapa dampak yang diterima, hal ini biasanya dikaitkan dengan isu lingkungan karena limbah yang dihasilkan kurang dikelola dengan baik.
Bahkan sampah kosmetik dan sampah skincare tidak cukup mudah untuk dikendalikan. Dampak yang telah dirasakan ini, akhirnya menyadarkan masyarakat tentang konsumsi produk kecantikan yang cukup saja.
Perubahan gaya hidup dalam mengkonsumsi produk kosmetik dengan lebih sadar disebut dengan slow beauty. Konsep slow beauty hadir saat fenomena fast beauty terjadi.
Slow Beauty merupakan konsep kecantikan yang difokuskan pada proses dari pada hasil yang instan.
Baca Juga: Ungkap Dampak dari Fast Fashion yang Justru Merusak Lingkungan
Alih-alih secara cepat menginginkan kulit mulus dengan perawatan yang banyak dan produk yang langsung bekerja, Slow beauty mengajak pengguna untuk lebih menikmati proses perawatan dengan produk yang lebih alami, ramah lingkungan juga minimalis.
Praktik ini sebetulnya tidak hanya ditujukan oleh konsumen pemakai produk kecantikan maupun kosmetik saja, tetapi pelaku di beauty industri harus menerapkan hal ini dalam produknya.
Mereka harus lebih bijaksana dalam memproduksi produk kecantikan. Seperti contohnya, lebih mengedepankan kualitas produk dibandingkan dengan kuantitasnya.
Konsep slow beauty cenderung bermanfaat dan tidak menimbulkan dampak yang negatif. Dikarenakan, konsep ini mampu memberikan manfaat pada kesehatan kulit, menjaga lingkungan, serta kesehatan mental kita.
Mempraktikan slow beauty bisa mengurangi perilaku konsumtif dan mengajak para konsumen untuk lebih cermat dalam belanja produk.
Konsumen akan mempertimbangkan kandungan, kondisi kulit juga manfaat dari produk, yakni lebih kepada memperhatikan apa yang akan dibeli dan alasan mengapa akan membeli suatu produk.
Dengan menerapkan slow beauty, kulit menjadi lebih sehat karena konsumen hanya menggunakan produk yang sesuai dengan kebutuhan kulit, sehingga kulit lebih sedikit terpapar dengan bahan kimia dari produk.
Slow beauty tidak hanya menerapkan basic skincare, namun slow beauty menggunakan produk kecantikan yang sifatnya sustainability yakni berkelanjutan.
Perlu dicermati bahwa dalam memilih sebuah produk kecantikan yang sustainable atau berkelanjutan, umumnya berbahan alami dan dapat diperbarui kandungan di produknya.
Dikutip dari Beauty Journal- sebagai pembeli harus cermat dalam memilih brand, dengan melihat profil brand tersebut. Anda bisa melihat produk dari merek yang peduli pada isu lingkungan dan keberlanjutan lingkungan.
Biasanya, brand yang mengusung konsep berkelanjutan akan mempertimbangkan limbah dari proses produksinya. Mereka akan menggunakan kemasan yang bisa didaur ulang juga ramah akan lingkungan.
Name : Syahidah Dina Ilmasya
Editor : Halo Jember