Lalu banyak user twitter lain membagikan pengalaman mereka tentang religious trauma. Lantas, apakah religious trauma atau yang bisa disebut trauma religius itu? Berikut penjelasannya menurut therapist.com
Apa Itu Trauma Religius?
Trauma religius terjadi ketika seseorang mengalami tekanan emosional atau psikologis akibat ajaran atau pengalaman di komunitas keagamaannya. Ini bisa muncul karena berbagai alasan, seperti ajaran yang terlalu keras, perlakuan buruk dari pemuka agama, atau bahkan rasa bersalah berlebihan yang ditanamkan sejak kecil.
Banyak yang tidak sadar jika mereka mengalami trauma ini. Yang mereka rasakan hanya cemas setiap kali membahas agama, atau merasa bersalah tanpa alasan yang jelas. Ada juga yang akhirnya memilih menjauh dari agama karena merasa tidak diterima oleh komunitas satu agama tersebut.
Apa yang Bisa Menyebabkan Trauma Religius?
Trauma religius bisa datang dari beberapa pengalaman buruk yang pernah dialami contohnya:
Ketakutan Berlebihan karena Ajaran yang Keras
Ada beberapa kelompok agama yang mengajarkan agama dengan fokus pada hukuman daripada kasih sayang, hal inilah yang membuat seseorang dihantui rasa ketakutan.
Contohnya, jika tidak melaksanakan anjuran sesuai agama sedikit saja maka orang tersebut akan mendapat dosa dari tuhan hingga bisa masuk neraka.
Pengucilan oleh Komunitas
Banyak orang yang mengaku dikucilkan dari komunitasnya karena mempertanyakan ajaran atau memilih jalan hidup yang beda. Padahal, agama seharusnya memberikan kenyamanan, bukan membuat orang merasa sendirian, terbuang apalagi terbayang bayang akan dosa.
Jika salah satu orang tidak melaksanakan anjuran yang biasa dilakukan oleh satu agama, maka sebaiknya kita bertanya terlebih dahulu alasan dibalik mereka tidak melakukannya. Apapun alasannya, kita harus menghargai pendapat setiap orang sebelum menilai orang tersebut.
Tekanan Sosial untuk Mematuhi Aturan Tanpa Mengetahui Alasannya
Kadang, lingkungan terlalu menuntut seseorang untuk jadi ‘sempurna’ dalam menjalankan agama. Padahal, setiap orang punya perjalanan spiritualnya masing-masing.
Sebagai umat beragama, seharusnya kita tidak membandingkan perjalanan spiritual kita dengan individu lain karena tiap orang hidup di latar belakang yang berbeda.
Perlakuan Buruk dari Pemuka Agama
Tidak sedikit kasus di mana pemuka agama justru melakukan pelecehan atau penyalahgunaan kekuasaan terhadap pengikutnya. Ini bisa menimbulkan trauma yang berkepanjangan dan membuat seseorang kehilangan kepercayaan, bukan cuma ke agamanya, tapi juga ke sesama manusia.
Bagaimana Cara Mengatasi Trauma Religius?
Jika kamu atau orang di sekitarmu merasa mengalami trauma ini, tidak perlu buru-buru menyalahkan diri sendiri. Ada beberapa cara yang bisa dicoba untuk pelan-pelan menyembuhkan diri:
- Cari Lingkungan yang Lebih Mendukung
Tidak semua pemeluk agama itu toksik. Coba cari lingkungan yang lebih terbuka, di mana kamu bisa bertanya dan mendiskusikan kepercayaan tanpa rasa takut dihakimi.
- Bicarakan dengan Orang yang Bisa Dipercaya
Entah itu teman, keluarga, atau bahkan terapis, penting untuk punya tempat berbagi yang aman. Kadang, hanya didengar saja sudah bisa membuat kita merasa lebih baik.
- Berikan Waktu untuk Diri Sendiri
Tidak ada aturan baku tentang bagaimana seharusnya seseorang menjalani keyakinannya. Jika kamu perlu waktu untuk memahami apa yang sebenarnya kamu percayai, tidak masalah. Yang penting, jangan paksa diri untuk langsung ‘sembuh’ dalam semalam.
Pada akhirnya, trauma religius itu nyata dan bisa berdampak besar pada seseorang. Penting untuk kita agar lebih peka dan tidak langsung men-judge pengalaman spiritual orang lain. Jika kamu punya teman yang mengalami hal ini, cukup dengarkan dan dukung mereka. Karena yang mereka butuhkan bukan penghakiman, tapi pemahaman.
Penulis: MG25 Ailatul Miza Zulfa
Editor : Halo Jember