Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Suwar Suwir

Kenali Trauma Religius: Ketika Agama Malah Jadi Beban, Bukan Pegangan

Halo Jember • Minggu, 16 Maret 2025 | 21:30 WIB
Ilustrasi orang mengalami trauma religus (Canva)
Ilustrasi orang mengalami trauma religus (Canva)
 
HALOJEMBER - Story Instagram dari Gitasav mengenai dirinya yang ditegur oleh orang asing menjadi viral usai seseorang di Twitter (X) menyebarkan dan mengomentarinya. Salah satu warganet ikut merespon twit tersebut dengan membahas tentang religious trauma.

Lalu banyak user twitter lain membagikan pengalaman mereka tentang religious trauma. Lantas, apakah religious trauma atau yang bisa disebut trauma religius itu? Berikut penjelasannya menurut therapist.com

Apa Itu Trauma Religius?

Trauma religius terjadi ketika seseorang mengalami tekanan emosional atau psikologis akibat ajaran atau pengalaman di komunitas keagamaannya. Ini bisa muncul karena berbagai alasan, seperti ajaran yang terlalu keras, perlakuan buruk dari pemuka agama, atau bahkan rasa bersalah berlebihan yang ditanamkan sejak kecil.

Banyak yang tidak sadar jika mereka mengalami trauma ini. Yang mereka rasakan hanya cemas setiap kali membahas agama, atau merasa bersalah tanpa alasan yang jelas. Ada juga yang akhirnya memilih menjauh dari agama karena merasa tidak diterima oleh komunitas satu agama tersebut.

Apa yang Bisa Menyebabkan Trauma Religius?

Trauma religius bisa datang dari beberapa pengalaman buruk yang pernah dialami contohnya: 

Ketakutan Berlebihan karena Ajaran yang Keras

Ada beberapa kelompok agama yang mengajarkan agama dengan fokus pada hukuman daripada kasih sayang, hal inilah yang membuat seseorang dihantui rasa ketakutan.

Contohnya, jika tidak melaksanakan anjuran sesuai agama sedikit saja maka orang tersebut akan mendapat dosa dari tuhan hingga bisa masuk neraka.

Pengucilan oleh Komunitas

Banyak orang yang mengaku dikucilkan dari komunitasnya karena mempertanyakan ajaran atau memilih jalan hidup yang beda. Padahal, agama seharusnya memberikan kenyamanan, bukan membuat orang merasa sendirian, terbuang apalagi terbayang bayang akan dosa.

Jika salah satu orang tidak melaksanakan anjuran yang biasa dilakukan oleh satu agama, maka sebaiknya kita bertanya terlebih dahulu alasan dibalik mereka tidak melakukannya. Apapun alasannya, kita harus menghargai pendapat setiap orang sebelum menilai orang tersebut.

Tekanan Sosial untuk Mematuhi Aturan Tanpa Mengetahui Alasannya 

Kadang, lingkungan terlalu menuntut seseorang untuk jadi ‘sempurna’ dalam menjalankan agama. Padahal, setiap orang punya perjalanan spiritualnya masing-masing.

Sebagai umat beragama, seharusnya kita tidak membandingkan perjalanan spiritual kita dengan individu lain karena tiap orang hidup di latar belakang yang berbeda.

Perlakuan Buruk dari Pemuka Agama 

Tidak sedikit kasus di mana pemuka agama justru melakukan pelecehan atau penyalahgunaan kekuasaan terhadap pengikutnya. Ini bisa menimbulkan trauma yang berkepanjangan dan membuat seseorang kehilangan kepercayaan, bukan cuma ke agamanya, tapi juga ke sesama manusia. 

Bagaimana Cara Mengatasi Trauma Religius? 

Jika kamu atau orang di sekitarmu merasa mengalami trauma ini, tidak perlu buru-buru menyalahkan diri sendiri. Ada beberapa cara yang bisa dicoba untuk pelan-pelan menyembuhkan diri: 

Tidak semua pemeluk agama itu toksik. Coba cari lingkungan yang lebih terbuka, di mana kamu bisa bertanya dan mendiskusikan kepercayaan tanpa rasa takut dihakimi. 

Entah itu teman, keluarga, atau bahkan terapis, penting untuk punya tempat berbagi yang aman. Kadang, hanya didengar saja sudah bisa membuat kita merasa lebih baik. 

Tidak ada aturan baku tentang bagaimana seharusnya seseorang menjalani keyakinannya. Jika kamu perlu waktu untuk memahami apa yang sebenarnya kamu percayai, tidak masalah. Yang penting, jangan paksa diri untuk langsung ‘sembuh’ dalam semalam.

Pada akhirnya, trauma religius itu nyata dan bisa berdampak besar pada seseorang. Penting untuk kita agar lebih peka dan tidak langsung men-judge pengalaman spiritual orang lain. Jika kamu punya teman yang mengalami hal ini, cukup dengarkan dan dukung mereka. Karena yang mereka butuhkan bukan penghakiman, tapi pemahaman.

 

Penulis: MG25 Ailatul Miza Zulfa

Editor : Halo Jember
#religius #gitasav #trauma