JEMBER, Halo Jember - Kemajuan teknologi juga hadir di sektor pertanian. Hal itu juga mengubah gaya hidup para petani.
Jika dulu memanen padi butuh waktu seharian bahkan berhari-hari, maka kini hanya dalam hitungan jam.
Mesin pemanen yang digunakan, istilah kerennya combine harvester (pemanen kombinasi). Bukan dores atau mesin perontok padi yang kerap dipakai petani.
Kini, mesin yang digunakan lebih modern, petani pun banyak yang menggunakannya.
Mesin itu, seperti mobil masuk ke areal persawahan. Ada yang mengendalikan layaknya mengemudikan kendaraan.
Tanaman padi seluas 0,7 hektar di Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, dengan cepat dipanen lewat mesin combine harvester itu.
Ahmad Taufiq, salah seorang petani Sumberejo mengaku, saat panen dirinya hanya butuh enam buruh tani saja.
Rinciannya, satu orang mengoperasikan mesin panen tersebut, dua lainnya berada di belakang membereskan gabah-gabah dalam karung.
Sementara tiga lainnya menjadi juru pengangkut. "Sudah tiga tahun ini saya pakai mesin untuk panen," ungkapnya.
Pria yang sudah puluhan tahun menjadi petani ini mengakui, panen menggunakan mesin ini lebih efisien dan tentu saja cepat.
Tenaga kerja bisa lebih sedikit, sehingga biaya juga mampu ditekan.
Dengan luasan lahan garapannya, rata-rata pengeluaran untuk panen hanya Rp 2 juta hingga Rp 3 juta.
“Itu sudah termasuk biaya sewa mesin Rp 500 ribu, tenaga kerja, dan makan. Padahal kalau memakai dores bisa Rp 4 juta, bahkan lebih,” ungkapnya.
Taufiq merasa panen dengan memakai mesin juga menghasilkan gabah yang lebih bersih.
Dia juga merasakan singkatnya waktu panen sejak tiga tahun ini.
“Jika dulu baru tuntas sore bahkan dilanjutkan lagi esok hari. Sejak pakai combine harvester, sebelum duhur sudah selesai,” imbuhnya.
Karung-karung berisi gabah yang sudah di tepi jalan pun sudah siap diangkut oleh pikap.
“Jadi langsung siap dibawa ke pembeli,” ungkapnya. (sil/dwi)
Editor : Sidkin