HALO JEMBER - Mendaki gunung kini tak hanya menjadi aktivitas fisik, tetapi juga bagian dari gaya hidup yang digemari banyak kalangan muda.
Pemandangan spektakuler dan sensasi berada di puncak dunia memang menggoda. Namun, di balik keindahan itu, ada bahaya nyata yang bisa mengancam keselamatan jika pendaki tidak memiliki persiapan matang.
Dari hipotermia yang mengintai di balik dinginnya malam pegunungan, hingga cedera dan gangguan mental seperti halusinasi, mendaki bukan sekadar soal kuat fisik, tapi juga kesiapan mental dan logistik.
Berikut beberapa risiko paling umum yang dihadapi pendaki dan langkah bijak untuk menghindarinya.
Hipotermia Tak Bisa Dieremehkan
Saat tubuh terlalu lama terpapar suhu dingin tanpa perlindungan memadai, risiko hipotermia sangat mungkin terjadi.
Gejala hipotermia bisa berupa menggigil, kulit pucat, bicara mulai tidak jelas, dan refleks tubuh yang melambat. Jika tidak segera dihangatkan, kondisi ini dapat berujung fatal.
Langkah pencegahannya meliputi penggunaan pakaian berlapis (layering system), memilih sleeping bag dengan rating suhu yang sesuai, dan menghindari kondisi tubuh basah terlalu lama.
Jangan remehkan perubahan cuaca di gunung satu jam cuaca buruk bisa mengacaukan semua rencana.
Halusinasi Akibat Ekstremnya Pendakian
Dalam beberapa kasus, pendaki mengalami halusinasi saat berada di ketinggian. Penyebabnya bisa bervariasi, mulai dari kelelahan ekstrem, kurangnya oksigen, hingga dehidrasi parah.
Beberapa pendaki mengaku mendengar suara-suara aneh atau melihat sosok yang tak nyata. Meski terkesan mistis, gangguan ini umumnya bersifat sementara dan akan membaik setelah tubuh diistirahatkan dan asupan cairan kembali normal.
Maka dari itu, penting bagi setiap pendaki untuk mengenal batas tubuhnya dan tidak memaksakan diri ketika kondisi fisik mulai menurun.
Cedera Jadi Momok Nyata
Cedera fisik juga menjadi risiko utama dalam pendakian, terutama ketika medan licin atau berbatu dilalui tanpa teknik yang benar.
Terkilir, keseleo, hingga jatuh tergelincir kerap dialami pendaki yang terlalu terburu-buru atau tidak memperhatikan pijakan.
Solusi terbaiknya adalah memakai sepatu gunung dengan traksi yang baik, membawa trekking pole sebagai penyeimbang, dan menjaga ritme pendakian tetap stabil. Lebih baik lambat tapi selamat, daripada cepat tapi celaka.
Kurang Persiapan Sumber Masalah
Mendaki tanpa rencana yang matang ibarat pergi ke medan perang tanpa senjata. Tidak membawa peta jalur, logistik yang cukup, senter, atau pakaian cadangan bisa berujung pada situasi genting terutama jika pendakian berlangsung lebih lama dari perkiraan atau cuaca berubah mendadak.
Riset medan pendakian, mengecek informasi dari basecamp, hingga menyiapkan peralatan dasar seperti kompas, alat P3K, dan cadangan makanan adalah langkah esensial yang seharusnya tidak ditawar.
Catatan Penting: Hindari 5 Kesalahan Fatal Ini Saat Mendaki
- Mengabaikan Cuaca – Banyak pendaki nekat tetap naik meski cuaca buruk. Ini bisa berujung pada tersesat, hipotermia, bahkan evakuasi darurat.
- Mendaki Sendiri – Meski terlihat menantang, mendaki tanpa teman sangat berisiko tinggi. Jika terjadi insiden, bantuan akan sangat sulit didapat.
- Overpacking atau Underpacking – Terlalu banyak membawa barang bisa memberatkan perjalanan, terlalu sedikit justru menyulitkan dalam kondisi darurat.
- Kurang Minum dan Makan – Pendaki sering lupa menjaga asupan cairan dan energi. Padahal tubuh membutuhkan nutrisi stabil untuk bertahan di jalur ekstrem.
Gunung akan selalu menawarkan keindahan. Namun, bagi mereka yang tak siap, keindahan itu bisa berubah menjadi malapetaka. Pendakian bukanlah ajang adu nyali atau tren musiman. Butuh persiapan dan kehati-hatian.
Penulis MG25 Vikriansyah
Editor : Dwi Siswanto