Rasa kopi itu pahit, bukan manis. Inilah diutarakan penikmat kopi tanpa gula yang kini telah menjadi gaya hidup dalam menikmati secangkir kopi.
ILHAM WAHYUDI, Bondowoso
Asap tipis mengepul dari cangkir keramik. Warna hitam pekat tanpa sebutir gula. Di Bondowoso, kebiasaan lama tersebut kini kembali jadi tren.
Ngopi pahit, bukan karena tak mampu beli gula, tapi karena ingin menikmati kopi apa adanya.
Budaya minum kopi tanpa gula kian diminati, terutama di kalangan anak muda dan pecinta kopi sejati.
Bukan hanya karena ingin tampil beda, tapi karena sadar bahwa kenikmatan kopi hitam tanpa tambahan rasa punya nilai. Bahkan, baik untuk kesehatan.
Kopi hitam yang diseduh tanpa tambahan pemanis mengandung lebih banyak senyawa aktif alami seperti antioksidan dan kafein murni.
Para ahli gizi menyebut kebiasaan ini sebagai salah satu langkah sederhana tapi berdampak besar untuk tubuh.
Kopi tanpa gula alias kopi tubruk pahit bukan lagi milik para orang tua atau pecandu kafein garis keras.
Di kedai kopi kekinian, permintaan kopi tanpa gula justru mulai meningkat.
Banyak yang menghindari gula berlebih, ada juga yang mengejar rasa asli dari biji kopi itu sendiri.
“Kalau pakai gula, malah nutupi karakter kopinya,” ujar Muhlisin Lahuddin salah seorang pengunjung kafe di Bondowoso.
Dia juga mengaku, konsumsi kopi pahit karena ingin merasakan karakter asli dari biji kopi dari tanah Bondowoso seperti Arabika Ijen Raung atau Robusta Bondowoso.
“Setiap daerah punya cita rasa khas. Kalau minum pakai gula, semua rasa kopi jadi mirip. Kopi tanpa gula, pahitnya itu enak kok,” kata pria yang akrab disapa Udin itu.
Pada akhirnya, minum kopi pahit bukan semata gaya. Tapi pilihan sadar untuk hidup lebih jujur.
“Lebih sehat, dan lebih apa adanya. Karena hidup, tidak selalu manis. Tapi harus tetap dinikmati. (dwi)
Editor : Dwi Siswanto