HaloJember – Hari Valentine, yang seharusnya menjadi puncak perayaan cinta, justru menjadi "kuburan" bagi hubungan sepasang kekasih yang satu ini.
Kisah pilu ini dialami oleh Arina, 26, dan kekasihnya, yang sebelumnya dikenal sebagai pasangan serasi di media sosial.
Pada malam 14 Februari, Arina sempat mengunggah foto fine dining romantis dengan caption manis.
Namun, tak disangka, malam yang awalnya penuh kemesraan tersebut berujung pada perpisahan yang tragis.
"Semuanya terasa sempurna, bunga, cokelat, dan makan malam. Tapi, saat dia mulai membahas masa depan dan saya tidak bisa memberikan jawaban yang dia inginkan, pertengkaran hebat terjadi di parkiran," ujar Arina.
Menurut Arina, tekanan untuk menjadikan momen Valentine sempurna justru membuat mereka sadar bahwa hubungan mereka sudah tidak harmonis selama berbulan-bulan.
"Hari itu cuma jadi katalisator saja. Kami putus saat itu juga, di malam Valentine," tambahnya.
Tren 'Valentighting'
Kisah Arina dan kekasihnya bukanlah satu-satunya. Fenomena ini semakin umum, bahkan psikolog menyebutnya sebagai "Valentine Breakup Syndrome".
Data menunjukkan bahwa pekan menjelang Hari Valentine merupakan salah satu waktu tertinggi kasus putus cinta, di mana orang sering kali mengevaluasi kembali hubungan mereka sebelum berkomitmen memberikan hadiah atau merayakan bersama.
Fenomena ini sering memicu apa yang disebut valentighting, di mana seseorang memilih memutuskan hubungan untuk menghindari keharusan merayakan Valentine bersama orang yang sudah tidak dicintainya.
Hari Valentine tanggal 14 Februari, menjadi hari paling rawan putus cinta karena tekanan emosional yang tinggi.
Bukan Akhir Segalanya
Meskipun menyakitkan, para ahli menyarankan untuk melihat ini sebagai momen untuk mencintai diri sendiri dan berbenah.
Perpisahan di momen spesial sering kali lebih baik daripada bertahan dalam hubungan yang sudah tidak berjalan dengan baik.
Bagi Anda yang mengalami nasib serupa, fokuslah pada pemulihan emosional dan bersabar dengan proses move on.
Editor : Hariri HJ