HALOJEMBER — Praktik silent treatment atau mendiamkan pasangan saat terjadi konflik masih kerap terjadi dalam hubungan pertemanan, keluarga, maupun percintaan.
Meski sering dianggap sebagai cara “menenangkan diri”, pakar menilai silent treatment justru berpotensi memperburuk masalah karena memutus komunikasi dan menimbulkan luka emosional pada pihak lain.
Silent treatment biasanya muncul saat seseorang kesulitan mengekspresikan perasaan marah, kecewa, atau lelah secara sehat.
Alih-alih mengungkapkan emosi, individu memilih diam sebagai bentuk perlindungan diri atau cara menghindari konflik.
Namun, sikap ini dapat memicu kesalahpahaman, kecemasan, dan rasa ditolak pada pasangan atau lawan bicara.
Untuk menghindari silent treatment, bangun kebiasaan komunikasi asertif.
Menyampaikan perasaan dengan kalimat “saya merasa…” tanpa menyalahkan pihak lain membantu membuka ruang dialog yang lebih aman.
Kejujuran emosional dinilai lebih efektif daripada memendam perasaan hingga meledak atau menghilang tanpa penjelasan.
Memberi jeda saat emosi memuncak diperbolehkan, tetapi perlu disertai kejelasan.
Misalnya, mengatakan bahwa diri butuh waktu untuk menenangkan diri dan akan melanjutkan pembicaraan setelah emosi lebih stabil.
Cara ini berbeda dengan silent treatment karena tetap menjaga rasa aman dalam relasi melalui kepastian komunikasi.
Penting pula untuk melatih kemampuan mendengarkan aktif. Mendengar tanpa memotong pembicaraan dan mengonfirmasi kembali maksud lawan bicara dapat mengurangi salah paham.
Sikap terbuka terhadap sudut pandang orang lain membantu konflik diselesaikan secara lebih dewasa dan konstruktif.
Topik komunikasi sehat dalam hubungan semakin ramai dibahas di media sosial seperti TikTok dan Instagram.
Meski konten edukatif membantu meningkatkan kesadaran, pakar mengingatkan agar setiap hubungan tetap membangun pola komunikasi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing pihak, bukan sekadar mengikuti tren.
Para ahli menegaskan bahwa konflik adalah hal wajar dalam relasi. Yang terpenting bukan menghindari konflik sepenuhnya, melainkan mengelolanya dengan komunikasi yang jujur, jelas, dan penuh rasa hormat.
Dengan pola komunikasi yang sehat, risiko terjebak dalam silent treatment dapat diminimalkan dan kualitas hubungan pun terjaga.
Editor : Harry Erje