Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Tak Sekadar Formalitas, Ini Alasan Tradisi Sungkeman Tetap Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

Yulio Faruq Akhmadi • Kamis, 19 Maret 2026 | 15:28 WIB
Gambar Ilustrasi Sungkeman (istimewa)
Gambar Ilustrasi Sungkeman (istimewa)

HALOJEMBER – Tradisi sungkeman menjadi salah satu momen paling sakral dalam perayaan Lebaran.

Anak-anak hingga orang dewasa bersimpuh di hadapan orang tua, memohon maaf, dan meminta restu.

Meski zaman terus berubah, tradisi ini tetap dipertahankan di banyak keluarga. Bahkan, sungkeman sering dianggap sebagai inti dari momen Lebaran itu sendiri.

Budayawan, Sutrisno Wibowo menjelaskan bahwa sungkeman memiliki makna yang sangat dalam dalam budaya masyarakat Indonesia, khususnya Jawa.

Menurutnya, tradisi ini bukan sekadar ritual, melainkan bentuk penghormatan kepada orang tua serta simbol kerendahan hati.

“Sungkeman itu bukan formalitas. Itu cara kita menunjukkan rasa hormat dan meminta maaf secara tulus,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa dalam sungkeman terdapat nilai-nilai yang sulit tergantikan oleh bentuk komunikasi lain, termasuk di era digital.

Interaksi langsung, sentuhan, dan ekspresi emosional menjadi bagian penting dari tradisi ini.

“Hal-hal seperti itu tidak bisa digantikan dengan pesan singkat atau video call,” ujarnya.

Selain itu, sungkeman juga menjadi momen refleksi diri. Proses meminta maaf secara langsung membuat seseorang lebih menyadari kesalahan dan memperbaiki hubungan.

Dalam konteks keluarga, tradisi ini juga memperkuat ikatan emosional antar generasi.

“Ini bukan hanya tentang anak ke orang tua, tapi juga menjaga hubungan keluarga secara keseluruhan,” katanya.

Meski demikian, ia mengakui bahwa praktik sungkeman mulai mengalami penyesuaian di beberapa keluarga modern. Namun esensi dari tradisi tersebut tetap dipertahankan.

“Bentuknya bisa berubah, tapi maknanya tetap sama,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa selama nilai penghormatan dan kebersamaan masih dijaga, tradisi sungkeman akan tetap relevan di tengah perubahan zaman.

“Selama manusia masih butuh hubungan emosional, tradisi seperti ini tidak akan hilang,” pungkasnya.



Editor : Yulio Faruq Akhmadi
#SUNGKEM #sungkeman #lebaran #tradisi