Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

“Kapan Nikah?” Selalu Muncul saat Lebaran, Ini Cara Menjawabnya Tanpa Bikin Suasana Canggung

Yulio Faruq Akhmadi • Senin, 23 Maret 2026 | 04:00 WIB
ilustrasi ditanyain kapan nikah? (istimewa)
ilustrasi ditanyain kapan nikah? (istimewa)

HALOJEMBER – Pertanyaan “kapan nikah?” seolah menjadi menu wajib selain ketupat dan opor saat Lebaran. Bagi sebagian orang, pertanyaan ini terdengar ringan.

Namun bagi yang belum siap atau punya alasan pribadi, momen tersebut bisa terasa menekan.

Fenomena ini hampir selalu muncul saat kumpul keluarga besar. Mulai dari sekadar basa-basi hingga pertanyaan berulang dari beberapa anggota keluarga, membuat suasana yang awalnya hangat berubah canggung.

Psikolog klinis, Siti Aulia Rahman menjelaskan bahwa pertanyaan tersebut sebenarnya berangkat dari norma sosial yang sudah lama terbentuk di masyarakat. Pernikahan dianggap sebagai “tahap wajib” dalam kehidupan seseorang.

“Di banyak keluarga, menikah itu masih dianggap sebagai indikator kesuksesan hidup. Makanya pertanyaan itu sering muncul tanpa mempertimbangkan kondisi personal,” jelasnya.

Menurutnya, tidak semua orang nyaman menjawab pertanyaan tersebut. Apalagi jika berkaitan dengan kondisi sensitif seperti karier, kesiapan mental, hingga pengalaman pribadi.

Untuk menyikapi hal tersebut, ada beberapa cara yang bisa dilakukan tanpa harus memicu konflik. Salah satunya dengan menjawab secara ringan namun tetap tegas.

Jawaban seperti “doakan saja ya” atau “masih proses” bisa menjadi pilihan aman untuk mengalihkan pembicaraan tanpa memperpanjang diskusi.

“Tidak harus selalu menjelaskan secara detail. Jawaban singkat yang sopan sudah cukup,” ujarnya.

Selain itu, mengalihkan topik pembicaraan juga bisa menjadi strategi efektif. Misalnya dengan menanyakan balik kabar keluarga atau membahas hal lain yang lebih netral.

Jika pertanyaan dirasa terlalu mengganggu, seseorang juga berhak memberikan batasan secara halus.

Menyampaikan bahwa topik tersebut bersifat pribadi bisa membantu menjaga kenyamanan diri.

“Menjaga batasan itu penting. Tidak semua hal harus dijawab secara terbuka,” tambahnya.

Ia menegaskan bahwa Lebaran seharusnya menjadi momen mempererat hubungan, bukan justru menimbulkan tekanan.

“Silaturahmi itu tujuannya mendekatkan, bukan membuat orang merasa tidak nyaman,” pungkasnya.

 

Editor : Yulio Faruq Akhmadi
#kapan nikah #Lebarab