HALOJEMBER – Tradisi keliling kampung saat Lebaran dulunya menjadi kebiasaan yang hampir selalu dilakukan.
Anak-anak hingga orang dewasa beramai-ramai mengunjungi rumah tetangga untuk bersilaturahmi.
Namun seiring waktu, tradisi ini mulai jarang terlihat. Banyak orang kini lebih memilih berkumpul di rumah atau hanya mengunjungi kerabat dekat.
Pengamat budaya, Rudi Hartono menjelaskan bahwa perubahan ini tidak lepas dari dinamika sosial masyarakat.
Menurutnya, dulu masyarakat memiliki waktu yang lebih longgar untuk bersilaturahmi secara langsung.
Keliling kampung menjadi cara utama untuk menjaga hubungan sosial.
“Dulu interaksi itu sangat bergantung pada pertemuan langsung,” jelasnya.
Kini, perkembangan teknologi membuat komunikasi menjadi lebih praktis.
Ucapan Lebaran bisa disampaikan melalui pesan singkat atau media sosial tanpa harus bertemu langsung.
Hal ini secara tidak langsung mengurangi intensitas kunjungan fisik antar warga.
“Bukan berarti silaturahmi hilang, tapi bentuknya berubah,” ujarnya.
Selain itu, perubahan gaya hidup juga berpengaruh. Banyak keluarga yang memiliki agenda sendiri saat Lebaran, sehingga waktu untuk keliling kampung menjadi terbatas.
Faktor lain seperti jarak rumah yang semakin jauh dan mobilitas yang tinggi juga turut memengaruhi.
Meski demikian, ia menilai tradisi ini sebenarnya masih memiliki nilai penting dalam menjaga kedekatan sosial.
Interaksi langsung dinilai lebih efektif dalam mempererat hubungan dibanding komunikasi virtual.
“Ketemu langsung itu punya kedekatan yang tidak bisa digantikan,” katanya.
Ia berharap tradisi keliling kampung tetap dilestarikan, meski dengan penyesuaian sesuai kondisi zaman.
“Tidak harus sama seperti dulu, tapi semangatnya jangan hilang,” pungkasnya.(yul)
Editor : Yulio Faruq Akhmadi