HALOJEMBER – Tradisi membagikan THR kepada ponakan menjadi salah satu momen yang paling ditunggu saat Lebaran.
Bagi anak-anak, amplop kecil berisi uang tersebut selalu menghadirkan kebahagiaan tersendiri.
Setiap tahun, tradisi ini terus berlangsung di banyak keluarga.
Bahkan, tidak sedikit orang dewasa yang sudah mempersiapkan anggaran khusus untuk dibagikan kepada keponakan.
Pengamat budaya, Rudi Hartono menjelaskan bahwa tradisi THR memiliki akar dari nilai berbagi dalam perayaan hari besar keagamaan.
Menurutnya, pemberian uang kepada anak-anak bukan sekadar kebiasaan, melainkan simbol kebahagiaan dan kepedulian antar anggota keluarga.
“THR itu bentuk sederhana dari berbagi rezeki. Nilainya mungkin tidak besar, tapi maknanya sangat kuat,” jelasnya.
Selain itu, tradisi ini juga menjadi cara untuk mempererat hubungan antara anggota keluarga yang jarang bertemu.
Interaksi sederhana saat memberi dan menerima THR menciptakan kedekatan emosional.
Namun dalam perkembangannya, tradisi ini juga mengalami perubahan.
Nominal THR yang diberikan kerap menjadi perhatian, bahkan tidak jarang dibandingkan antar anggota keluarga.
Hal ini, menurut Rudi, perlu disikapi secara bijak agar tidak menghilangkan makna utama dari tradisi tersebut.
“Jangan sampai esensinya bergeser jadi ajang pamer atau perbandingan,” ujarnya.
Ia menyarankan agar pemberian THR disesuaikan dengan kemampuan masing-masing, tanpa tekanan untuk mengikuti standar tertentu.
Bagi anak-anak, yang terpenting bukanlah jumlah uang yang diterima, melainkan momen kebersamaan dan perhatian yang mereka rasakan.
“Anak-anak itu lebih ingat suasananya daripada jumlahnya,” katanya.
Ia menegaskan bahwa tradisi THR akan tetap relevan selama nilai kebersamaan dan berbagi tetap dijaga.
“Selama maknanya tidak berubah, tradisi ini akan terus hidup,” pungkasnya.(yul)
Editor : Yulio Faruq Akhmadi