HALOJEMBER – Sungkeman menjadi salah satu tradisi yang paling melekat dalam perayaan Lebaran, khususnya di masyarakat Jawa.
Momen ini biasanya dilakukan dengan bersimpuh di hadapan orang tua sambil memohon maaf dan restu.
Meski terlihat sederhana, tradisi ini memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar formalitas.
Budayawan, Sutrisno Wibowo menjelaskan bahwa sungkeman merupakan bentuk penghormatan tertinggi kepada orang tua.
Dalam tradisi Jawa, sikap merendahkan diri di hadapan orang yang lebih tua menjadi simbol kesopanan dan penghargaan.
“Sungkeman itu bukan hanya gerakan, tapi ekspresi nilai-nilai budaya,” jelasnya.
Menurutnya, momen ini juga menjadi ruang refleksi bagi individu untuk menyadari kesalahan dan memperbaiki hubungan.
Permintaan maaf yang disampaikan secara langsung memiliki kekuatan emosional yang lebih besar dibanding sekadar ucapan biasa.
“Ada kejujuran dan ketulusan yang terasa saat dilakukan langsung,” ujarnya.
Selain itu, sungkeman juga memperkuat ikatan antar generasi. Interaksi antara anak dan orang tua dalam momen ini menciptakan kedekatan yang sulit tergantikan.
Di tengah perkembangan zaman, tradisi ini tetap dipertahankan karena nilai yang dikandungnya masih relevan.
“Selama manusia masih menghargai hubungan keluarga, tradisi ini akan tetap ada,” katanya.
Ia mengakui bahwa bentuk pelaksanaan sungkeman bisa mengalami penyesuaian. Namun esensi dari penghormatan dan permohonan maaf tetap menjadi inti utama.
“Sungkeman itu soal makna, bukan sekadar bentuk,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tradisi ini menjadi salah satu cara menjaga nilai-nilai budaya tetap hidup di tengah modernisasi.
“Ini warisan yang tidak hanya dijaga, tapi juga dirasakan,” pungkasnya.
Editor : Yulio Faruq Akhmadi