HALOJEMBER - Jika Anda pernah masuk ke dalam rumah adat Jawa yang megah bernama Joglo, hal pertama yang pasti menarik perhatian adalah empat tiang besar dan tinggi yang berdiri kokoh tepat di bagian paling tengah ruangan.
Di balik kemegahannya yang sarat filosofi, muncul pertanyaan mendasar, seperti Kenapa rumah Joglo selalu memiliki tiang utama di tengah? Apakah hanya soal struktur bangunan, atau ada makna spiritual yang lebih.
Empat tiang utama ini dalam bahasa Jawa dikenal dengan sebutan Soko Guru (atau Saka Guru). Istilah ini berasal dari bahasa Sanskerta, di mana Saka berarti tiang atau penopang, dan Guru berarti utama atau yang agung.
Baca Juga: Liburan Seru dengan Aktivitas Edukatif untuk Anak di Rumah
Secara harfiah, Soko Guru adalah tiang utama yang menjadi penyangga paling fundamental dari sebuah bangunan Joglo. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bahkan mendefinisikannya secara lebih luas sebagai "sesuatu yang menjadi penegak negara".
Filosofi utama keberadaan Soko Guru adalah sebagai representasi dari empat penjuru mata angin: timur, barat, utara, dan selatan.
Keempat tiang ini melambangkan kekuatan yang datang dari segala arah, yang secara spiritual diyakini memberikan perlindungan total kepada penghuninya.
Tidak hanya itu, Soko Guru juga dianggap sebagai simbol dari pilar-pilar utama kehidupan, meliputi kesadaran spiritual, keseimbangan sosial, kebijaksanaan, dan keadilan.
Baca Juga: 12 Tips Mengatur Keuangan Rumah Tangga Lebih Efektif
Dengan berada di bawah "payung" keempat tiang ini, manusia diharapkan dapat menjalani hidup yang seimbang dan dilindungi dari mara bahaya.
Jika bergeser ke sudut pandang lain, Dari sisi arsitektur, fungsi Soko Guru tidak kalah penting.
Keempat tiang yang biasanya lebih tinggi dari tiang-tiang lainnya di sekeliling ruangan ini bertugas untuk menopang struktur atap bertingkat yang disebut Tumpang Sari.
Atap Tumpang Sari biasanya terdiri dari tiga hingga lima lapisan yang mencerminkan jenjang kehidupan manusia. Soko Guru- lah yang menahan beban berat struktur kayu bertingkat ini agar tetap kokoh dan tidak roboh.
Di masa lalu, rumah Joglo tidak bisa dibangun oleh sembarang orang. Keberadaan Soko Guru yang terbuat dari kayu jati berkualitas tinggi menjadi penanda status sosial ekonomi pemiliknya.
Baca Juga: Cara Menciptakan Rumah yang Nyaman untuk Semua Anggota Keluarga
Biasanya, rumah dengan struktur Joglo hanya dimiliki oleh kalangan bangsawan atau priyayi tinggi karena biaya pembuatannya yang sangat mahal.
Proses pemasangan Soko Guru tidak bisa dilakukan sembarangan.
Biasanya, ritual khusus dilakukan sebelum tiang ini ditegakkan, seperti pemilihan hari baik, pembacaan doa, hingga upacara selamatan bumi.
Beberapa ritual bahkan melibatkan sesaji atau penanaman benda-benda tertentu di lubang fondasi tiang (umpak) untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan bagi penghuninya. (mg4)
Penulis : Brilian abdillah
Editor : Hariri HJ