Halo Jember – Seringnya pemadaman listrik maupun penurunan tegangan di suatu wilayah tidak bisa dianggap sepele.
Selain mengganggu aktivitas masyarakat, kondisi tersebut juga berisiko memperpendek usia pakai berbagai perangkat elektronik rumah tangga. Hal itu terutama terjadi pada peralatan yang belum dibekali teknologi pelindung tegangan modern.
Dosen Teknik Energi Terbarukan Polije, Dedy Eko Rahmanto menjelaskan, pemadaman listrik pada dasarnya dapat dipicu oleh dua faktor.
Pertama, adanya pekerjaan perawatan jaringan yang memang sudah terjadwal. Kedua, gangguan yang sifatnya mendadak dan sulit diprediksi.
Menurut lulusan S1 Teknik Pertanian Universitas Jember dan S2 Teknik Mesin Pertanian dan Pangan IPB tersebut, apabila pemadaman dilakukan untuk kepentingan pemeliharaan, maka penyedia listrik memiliki kewajiban menyampaikan pemberitahuan terlebih dahulu kepada pelanggan.
“Kalau perawatan, PLN wajib menginformasikan kepada customer terlebih dahulu,” ujarnya.
Baca Juga: 6 Kegiatan Seru yang Bisa Dilakukan Saat Listrik Padam
Sementara itu, gangguan yang terjadi secara tiba-tiba umumnya disebabkan faktor teknis maupun kondisi tertentu di lapangan.
Meski demikian, gangguan tersebut biasanya tidak berlangsung terlalu lama dan segera ditangani agar pasokan listrik kembali normal.
Dedy menerangkan, dampak dari listrik padam maupun tegangan yang tidak stabil cukup terasa terhadap perangkat elektronik yang belum dilengkapi sistem inverter.
Fluktuasi tegangan dapat membuat komponen bekerja tidak optimal sehingga umur pemakaian alat menjadi lebih pendek.
Meski begitu, perkembangan teknologi membuat banyak perangkat elektronik terbaru telah dibekali inverter atau sistem penyesuaian tegangan. Salah satu contoh yang mudah ditemui ialah kepala pengisi daya telepon seluler.
“Meski demikian, dampaknya tetap ada, hanya saja lebih aman,” imbuh dosen yang mengampu mata kuliah Elektronika Daya, Dasar Kelistrikan hingga Perancangan Sistem Energi tersebut.
Untuk meminimalkan risiko kerusakan, masyarakat disarankan memasang stabilizer voltase atau stavolt sebagai perlindungan paling sederhana.
Alat tersebut berfungsi menjaga tegangan listrik tetap berada pada batas aman sehingga perangkat elektronik tidak langsung menerima lonjakan maupun penurunan tegangan secara drastis.
Alternatif lainnya ialah menggunakan Uninterruptible Power Supply (UPS) yang mampu menyediakan daya cadangan sementara ketika listrik padam mendadak.
Selain itu, masyarakat juga dapat memanfaatkan inverter dari sumber energi lain, generator set (genset), hingga powerbank berkapasitas besar untuk menopang kebutuhan perangkat tertentu.
Apabila memiliki anggaran lebih, penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) rumah tangga dinilai menjadi pilihan yang menjanjikan. Namun, biaya investasinya masih relatif tinggi.
Untuk kebutuhan rumah tangga dengan konsumsi sekitar 300 hingga 400 kWh, dana yang diperlukan diperkirakan mencapai sekitar Rp 40 juta. “Sekarang penggunaan PLTS di rumah sedang menjadi tren, hanya saja biaya pengadaannya memang masih cukup mahal,” pungkasnya. (dhi/dwi/yul)
Editor : Yulio Faruq Akhmadi