JEMBER, Halojember – Sepulang bekerja, sebagian orang memilih beristirahat di dalam rumah. Namun bagi para pencinta anggrek, duduk santai di teras sambil menikmati bunga yang sedang bermekaran menjadi cara sederhana untuk mengusir penat setelah seharian beraktivitas.
Belakangan, merawat anggrek semakin digemari masyarakat Jember. Tanaman epifit ini tidak hanya mempercantik hunian, tetapi juga menghadirkan suasana yang lebih teduh dan menenangkan.
Kehadirannya di sudut teras atau ruang tamu mampu memberi kesan elegan, bahkan membuat rumah terasa seperti vila di kawasan pegunungan.
Bagi para penghobi, proses merawat anggrek juga menjadi latihan kesabaran. Ada kepuasan tersendiri saat melihat akar baru mulai tumbuh hingga bunga perlahan bermekaran.
Momen-momen kecil itulah yang membuat banyak orang jatuh hati pada tanaman hias satu ini.
"Pulang kerja dalam keadaan lelah, lalu duduk di teras melihat anggrek-anggrek bermekaran, stres itu rasanya luruh begitu saja," ujar Amanda Putri, pencinta anggrek asal Kaliwates saat ditemui di Festival Anggrek di Jember, beberapa waktu lalu.
Menurut Amanda, pemula tidak perlu takut mencoba memelihara anggrek. Kuncinya adalah menjaga kelembapan tanpa membuat media tanam terlalu basah.
Penyiraman cukup dilakukan dua hingga tiga hari sekali pada bagian akar dengan media tanam berdrainase baik, seperti arang. Tanaman juga sebaiknya ditempatkan di lokasi yang terang, tetapi tidak terkena sinar matahari langsung.
"Cukup siram 2-3 hari sekali di area akar, pastikan media tanamnya, bisa pakai arang, memiliki drainase yang baik, dan letakkan di pojok depan rumah atau tempat yang pas, yang penting tidak terkena cahaya matahari secara langsung," jelasnya.
Baginya, anggrek lebih dari sekadar tanaman hias. Kehadirannya mampu mengubah suasana rumah menjadi lebih hidup dan berkelas.
"Menurut saya, anggrek itu soal rasa dan estetika. Rumah yang awalnya biasa saja, kalau dikasih sentuhan anggrek di sudutnya, bisa terasa lebih elegan dan estetik," imbuh Amanda. (mau)
Editor : Sidkin