HALOJEMBER - Layar lebar Indonesia kembali menghadirkan karya sinematik yang menggugah semangat nasionalisme.
Film Pengepungan di Bukit Duri garapan sutradara R. Santoso resmi tayang di bioskop nasional mulai pekan ini, dan langsung mendapat sambutan hangat dari kritikus serta masyarakat luas.
Film ini tidak hanya menyajikan drama heroik penuh emosi, tetapi juga mengangkat salah satu bab penting yang nyaris terlupakan dalam sejarah perjuangan rakyat Jakarta: pengepungan kawasan Bukit Duri oleh pasukan Belanda pada masa Agresi Militer I tahun 1947.
Film ini terinspirasi dari kisah nyata perlawanan warga dan pejuang lokal di wilayah Bukit Duri, Jakarta Selatan, terhadap pasukan Belanda yang berupaya merebut kembali wilayah strategis pasca-Proklamasi Kemerdekaan.
Peristiwa tersebut tercatat dalam sejumlah arsip dan kesaksian sejarah lisan, namun belum banyak dikenal publik secara luas.
Sutradara R. Santoso mengatakan bahwa ide pembuatan film ini muncul setelah ia membaca dokumen Belanda dan catatan sejarah lokal yang menyebutkan pertempuran sengit di sekitar Bukit Duri, Manggarai, dan Tebet.
“Saya merasa ini adalah bagian penting dari sejarah Jakarta yang terlupakan. Bukan hanya militer yang berjuang, tapi juga rakyat biasa—tukang becak, pedagang pasar, pemuda masjid—semua terlibat dalam mempertahankan kemerdekaan,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (12/4).
Berbeda dari banyak film perjuangan yang berfokus pada tokoh militer atau pahlawan nasional, Pengepungan di Bukit Duri mengambil sudut pandang dari tokoh fiksi Darto, seorang buruh kereta api yang secara tak sengaja terseret dalam pusaran konflik bersenjata.
Darto digambarkan sebagai sosok biasa yang akhirnya memilih untuk berjuang demi melindungi keluarganya dan komunitasnya dari ancaman penjajah.
Film ini dengan apik memperlihatkan bagaimana para pejuang sipil menggunakan taktik gerilya di lorong-lorong sempit dan bantaran sungai Ciliwung.
Mereka menyusun strategi dari rumah-rumah warga, menyembunyikan senjata di dalam gerobak sayur, dan bahkan menjadikan masjid serta warung kopi sebagai pos pengamatan rahasia.
“Cerita ini kami angkat bukan hanya untuk menghibur, tapi juga untuk memberi penghormatan pada para pejuang yang tak dikenal, yang mungkin namanya tidak pernah masuk buku sejarah, tapi jasanya nyata,” ungkap Santoso.
Untuk menjaga akurasi sejarah, tim produksi bekerja sama dengan sejarawan Universitas Indonesia dan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
Penelitian mendalam dilakukan selama lebih dari satu tahun, termasuk wawancara dengan keturunan para pejuang dan saksi hidup yang masih tinggal di kawasan Bukit Duri.
Sinematografinya memperkuat nuansa zaman dengan tone warna pudar khas film perang klasik, sementara desain set dan kostum didesain sedetail mungkin untuk menggambarkan suasana Jakarta pada era 1940-an.
Musik latar karya Erwin Gutawa menambah kedalaman emosi dalam film, dengan komposisi orkestra yang dramatis dan menyayat. Aktor muda Fajar Nugraha memerankan Darto dengan penuh penghayatan.
Transformasinya dari pria biasa menjadi simbol perlawanan rakyat berhasil memikat hati penonton.
Ia didampingi oleh aktris senior Widyawati yang memerankan Bu Salmah, tokoh ibu pejuang yang menjadi simbol keteguhan dan keberanian perempuan dalam masa perang.
Film ini juga dibintangi oleh sejumlah aktor pendukung seperti Yoga Pratama, Ayushita, dan Lukman Sardi yang memperkuat narasi lewat peran-peran dengan karakter kuat.
Sejak penayangan perdananya, Pengepungan di Bukit Duri menuai pujian dari berbagai kalangan. Banyak yang menganggap film ini sebagai karya penting dalam pembaruan sinema sejarah Indonesia, karena mengangkat narasi lokal yang selama ini tertutup oleh kisah-kisah besar dari medan tempur seperti Bandung, Surabaya, atau Yogyakarta.
“Film ini membuka mata saya bahwa Jakarta juga punya sejarah perang rakyat yang luar biasa,” ujar Sari, seorang penonton yang hadir di gala premiere. Tak sedikit pula yang berharap film ini dapat masuk dalam kurikulum pendidikan atau ditayangkan di sekolah-sekolah sebagai materi pelengkap pelajaran sejarah.
Penulis: MG25 Okky Filzah Amalina
Editor : Halo Jember