HALOJEMBER - Di balik tembok-tembok batu tebal Vatikan yang berusia ratusan tahun, tersembunyi sebuah proses pemilihan yang sangat tertutup, konklaf, di mana para kardinal berkumpul untuk memilih pemimpin tertinggi Gereja Katolik.
Tapi apa jadinya jika di tengah ritual sakral tersebut, muncul sebuah rahasia yang mampu mengguncang fondasi keyakinan dan tradisi kuno Gereja?
Inilah yang coba diangkat dalam Conclave (2024), film karya Edward Berger yang bukan hanya menyajikan intrik politik dan spiritualitas, tetapi juga secara berani menyelipkan isu identitas gender yang belum pernah disentuh secara eksplisit dalam sinema religius arus utama yakni interseksualitas.
Film ini mengikuti Cardinal Thomas Lawrence (Ralph Fiennes), seorang figur moderat dan penuh pertimbangan yang ditugaskan memimpin konklaf setelah wafatnya Paus.
Di tengah ketegangan antar faksi, Lawrence dihadapkan pada kenyataan bahwa Paus sebelumnya diam-diam mengangkat seorang kardinal baru, Vincent Benitez (diperankan oleh Carlos Diehz), tanpa sepengetahuan kolegium lainnya.
Benitez tampil misterius, kalem, dan membawa aura spiritual yang kuat. Ia bukan kandidat yang diunggulkan, namun karismanya tak terbantahkan.
Ketika akhirnya ia terpilih sebagai Paus, momen kemenangan tersebut segera berubah menjadi pengakuan yang mengguncang, ia adalah seorang interseks.
Identitas interseks dalam konteks spiritualitas tinggi seperti kepausan bukan hanya mengejutkan, namun juga menantang seluruh narasi dominan tentang tubuh, otoritas, dan keabsahan kepemimpinan dalam agama.
Interseks, sebuah kondisi biologis ketika seseorang lahir dengan karakteristik seksual seperti genetik, hormonal, atau anatomis yang tidak sepenuhnya masuk ke dalam kategori laki-laki atau perempuan.
Hal ini seringkali menjadi subjek yang tak dibicarakan, apalagi dalam ranah religius. Conclave justru memilih untuk menaruh isu ini di pusat konflik.
Keberanian film ini terletak pada pertanyaannya yang mendasar, apakah tubuh seseorang, dengan kerumitannya, menentukan apakah ia boleh menduduki posisi spiritual tertinggi? Atau apakah spiritualitas itu sendiri adalah hal yang lebih dalam dari sekadar kategori biologis?
Tak bisa dihindari, film ini menuai pro dan kontra. Beberapa kalangan religius menyebutnya sebagai “penghinaan terhadap kesakralan”.
Sementara yang lain memujinya karena membawa isu-isu penting ke dalam wacana publik. Di sisi lain, komunitas interseks internasional memberikan respons positif karena merasa mendapatkan representasi yang manusiawi dan tidak stereotipikal.
Conclave (2024) bukan hanya sebuah drama thriller. Ia adalah sebuah refleksi berani tentang bagaimana dunia, termasuk dunia religius, perlu mulai mengakui realitas biologis yang lebih luas.
Dengan penggambaran yang sensitif dan naratif yang kokoh, film ini berhasil menempatkan isu interseks ke dalam percakapan yang selama ini dihindari.
Bisakah seseorang yang tidak masuk dalam definisi binari memimpin umat miliaran orang?
Jawaban film ini tidak eksplisit. Tapi justru karena itu, ia berhasil menggugah penonton untuk memikirkan ulang apa arti dari kepemimpinan, iman, dan tubuh manusia yang diciptakan dengan segala kerumitannya.
Editor : Halo Jember