HALOJEMBER - Thomas Carter berhasil mempersembahkan film biografi yang menginspirasi dari perjalanan hidup seorang ahli bedah fenomenal asal Amerika, Dr. Ben Carson yang diperankan oleh Cuba Gooding Jr.
Sebuah film yang berjudul Gifted Hands: The ben Carson Story (2009) ini diawali dengan narasi kehidupan seorang anak laki-laki berkulit hitam dari keluarga miskin yang tumbuh di lingkungan keras Detroit.
Hidup Carson kecil dipenuhi banyak tantangan mulai dari ditinggalkan oleh ayahnya sejak ia masih bayi, mengalami kesulitan akademik yang membuatnya terancam dikeluarkan dari sekolahnya, hingga menghadapi diskriminasi rasial.
Namun, berkat dorongan ibunya, Sonya Carson, ia kemudian menemukan jalan menuju kesuksesan.
Sekalipun Sonya tidak memiliki pendidikan tinggi, bahkan tak mampu mengeja huruf, ia paham betul pentingnya menanamkan kebiasaan membaca kepada anak-anaknya.
Ia lantas membatasi waktu anak-anaknya dalam menonton televisi dan mewajibkan Ben serta kakaknya untuk membaca buku perpustakaan setiap minggu, lalu menuliskan ringkasannya, dan mendiskusikannya bertiga.
Dari kebiasaan ini, Ben yang merupakan siswa terbodoh di kelasnya menjadi siswa yang memiliki wawasan luas dan kepercayaan diri untuk bercita-cita yang tinggi.
John Pielmer, sang penulis, tampaknya ingin menyoroti bagaimana peran membaca dalam mengatasi keterbatasan sosial dan ekonomi.
Gifted Hands menunjukkan bahwa dalam dunia dimana pendidikan seringkali menjadi faktor utama dalam bermasyarakat, literasi bukan hanya menjadi sekedar keterampilan, lebih dari itu, kulitas literasi yang baik mampu membuka peluang yang lebih luas.
Carson yang mulanya tak memiliki kepercayaan diri sebab terkungkung dengan label “bodoh” yang dilekatkan dalam dirinya, berubah menjadi sosok yang mampu berpikir kritis, memecahkan masalah, dan berimajinasi tentang dunia yang lebih luas dalam hidupnya setelah membaca buku.
Lebih-lebih, Carson dalam film ini juga menunjukkan bahwa membaca dapat membentuk karakter seseorang.
Ia yang awalnya mudah tersulut emosi hingga nyaris merengut nyawa ibunya dan membuatnya kehilangan arah, akhirnya mampu mengasah kesabaran, logika, dan empatinya melalui membaca.
Bacaan yang ia tekuni tidak hanya mengajarkannya tentang ilmu kedokteran, tetapi juga tentang moralitas, ketekunan, dan kebesaran manusia dalam menghadapi kesulitan.
Ini menunjukkan bahwa membaca bukan hanya sekadar mengumpulkan informasi, tetapi juga membentuk pola pikir, etika, dan nilai-nilai yang menentukan bagaimana seseorang menghadapi tantangan dalam hidup.
Alhasil, seorang anak laki-laki miskin berkulit hitam yang hampir dikeluarkan dari sekolah ini memiliki kesempatan untuk menjadi siswa terbaik pada hari kelulusannya, mendapatkan beasiswa berkuliah di kedokteran, hingga menjadi seorang dokter ahli saraf yang fenomenal di Amerika.
Dengan demikian, film ini berhasil menyampaikan pesan yang kuat bahwa membaca merupakan satu bentuk perlawanan terhadap kondisi yang membatasi dan mampu menjadi sarana bagi seseorang untuk menulis takdirnya sendiri.
Disisilain, film ini juga berhasil merefleksikan tentang betapa pentingnya akses terhadap literasi dan pendidikan yang berkualitas bagi semua kalangan. Karya sastra tidak hanya ditujukan kepada kelompok elite saja, namun milik mereka yang memiliki kemauan untuk membacanya.
Bagian dimana Carson mulai memahami konsep-konsep ilmah melalui bacaan di perpustakaan publik menunjukkan bahwa akses terhadap literasi yang inklusif mampu melahirkan sosok-sosok yang mampu berperan besar dalam masyarakat. Barangkali ini menjadi kritik terhadap realitas sosial yang timpang yang membuat akses terhadap buku dan pendidikan yang berkualitas hanya menjadi milik segelintir kelompok.
Gifted Hands: The Ben Carson Story bukan hanya sekedar film yang mengulas kisah hidup seorang dokter hebat, lebih jauh adalah sebuah pengingat bahwa literasi merupakan sebuah gerbang yang mampu membuka dunia yang lebih luas, untuk menjadi siapapun dalam hidup. Kisah Ben Carson dalam film ini menjadi bukti bahwa membaca adalah seni membebaskan diri sendiri dari apapun yang membatasi.
Penulis: MG25 Zahra Fadia Siti Haliza
Editor : Halo Jember