HALO JEMBER – Film Perayaan Mati Rasa yang tayang awal tahun 2025, kembali menyapa penonton.
Film yang disutradarai oleh Umay Shahab dan dibintangi Iqbaal Ramadhan ini tayang di layanan streaming Netflix sejak Kamis, 12 Juni 2025.
Sejak dirilis kembali, film ini langsung trending.
Diketahui, film ini merupakan film ketiga Umay setelah Kukira Kau Rumah dan Ketika Berhenti di Sini.
Film Perayaan Mati Rasa hadir sebagai salah satu karya yang berani. Sebab mengangkat isu kesehatan mental secara jujur dan menyentuh.
Film ini tak hanya menceritakan trauma keluarga semata, tetapi juga menyuguhkan potret realistis bagaimana kehilangan dan tekanan emosional dapat membuat seseorang benar-benar "mati rasa".
Film ini memusatkan cerita pada tokoh Ian Antono (Iqbal Ramadhan), seorang pemuda yang berjuang mengejar mimpi menjadi musisi bersama band-nya, Midnight Serenade.
Namun di balik ambisinya, Ian dihantui oleh luka mendalam: kematian kedua orang tuanya yang terjadi secara tiba-tiba.
Hal ini merenggangkan hubungannya dengan sang adik, Uta Antono (Umay Shahab), dan membuat Ian menekan emosinya hingga tidak lagi mampu merasakan kesedihan maupun kebahagiaan.
Kondisi "mati rasa" yang dialami Ian merupakan bentuk nyata dari gangguan kesehatan mental yang kerap tak terlihat.
Banyak orang mungkin mengira seseorang yang terlihat tenang atau biasa-biasa saja sedang baik-baik saja.
Padahal sesungguhnya mereka tengah memendam duka mendalam yang tak tertangani.
Film ini mengajak penonton untuk lebih peka terhadap bentuk-bentuk emosi, khususnya kesedihan yang tak selalu diekspresikan dengan air mata.
Sebelumnya film ini telah mencuri perhatian lebih dari 1,3 juta penonton saat tayang perdana di bioskop pada Januari 2025.
Saat dirilis di Netflix, film ini menjadi kesempatan emas bagi generasi muda untuk lebih memahami dampak psikologis dari kehilangan dan pentingnya proses penyembuhan emosional.
Secara keseluruhan, film ini bukan sekadar drama keluarga.
Ini adalah karya yang mengingatkan pentingnya memperhatikan sertam menyampaikan luka batin, mencari dukungan, dan menormalisasi upaya penyembuhan.
Di tengah maraknya konten hiburan yang mengedepankan visual dan aksi, Perayaan Mati Rasa hadir sebagai pengingat: bahwa di balik senyum dan keheningan seseorang, mungkin ada cerita panjang yang belum selesai disembuhkan.*
MG25 Carolina Yuniati
Editor : Sidkin