Halo Jember - Sebelum animasi Indonesia kenal CGI, software keren, atau studio gede, layar TV kita sudah pernah punya satu karya yang mindblowing buat zamannya: Si Huma.
Tayang di TVRI tahun 1983–1984, serial ini jadi animasi pertama buatan Indonesia yang lahir dari kerja sama Pusat Produksi Film Negara (PPFN) dan UNICEF dan ini udah ada bahkan sebelum generasi milenial lahir.
Si Huma ini menceritakan anak SD polos tapi imajinatif, yang ditemani Windi teman unik dari dunia fantasi yang bentuknya jauh dari manusia.
Mereka berdua jalan-jalan ke berbagai petualangan yang isinya bukan hanya seru-seruan, tapi juga ngajarin hal-hal penting sepertu peduli lingkungan, mengerti bahaya penyakit, sampai menjaga kebersihan. Sederhana tapi penuh pembelajaran.
Yang membuat Si Huma makin iconic justru proses produksinya. Bayangin bikin animasi full manual tanpa komputer.
Timnya hanya lima animator, dua di antaranya lulusan pelatihan animasi singkat di Jepang. Semua frame digambar pakai kertas, kuas, dan cat air, benar-benar ngandelin skill tangan, bukan efek digital.
Target awalnya mau bikin 26 episode dalam setahun, masing-masing sekitar sepuluh menit, tapi biaya bikin serial kartun zaman itu berat banget, jadi produksinya lumayan panjang.
Workflow mereka pun beda jauh dari animasi modern. Ceritanya dimulai dari dongeng anak-anak, lalu diterjemahkan jadi sketsa visual sebelum dialog ditambahkan. No digital editing, no render farm cuma ketekunan dan kreativitas murni.
Meskipun cuma tayang sebentar, Si Huma udah jadi fondasi animasi Indonesia. Ia ngasih contoh bahwa animasi bukan hanya tontonan lucu-lucuan, tapi juga media pendidikan yang powerful.
Nilai-nilai yang diangkat pun gak pernah basi, persahabatan, alam, gotong royong, sampai kesehatan lingkungan.
Makanya, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) sampai sekarang masih ngejaga dan nge-share cuplikan animasinya supaya generasi baru tau sejarahnya.
Dari sini kelihatan bahwa industri animasi Indonesia sebenarnya sudah memiliki DNA kuat sejak lama.
Tantangan sekarang bukan hanya bikin visual yang “wah”, tapi gimana menghadirkan cerita yang tulus, punya nilai, dan tetap relevan buat penonton muda.
Si Huma mungkin jadul, tapi spirit-nya timeless. Bukti nyata kalau kreativitas sejati bisa tetap bersinar meski modalnya sederhana.
Penulis: Tazyinatul Ilmiah
Editor : Dwi Siswanto