Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Review Film Obsession (2025): Horor Supranatural dengan Teror dari Sebuah Mainan Pengabul Keinginan

Viona Rj • Kamis, 9 Juli 2026 | 18:42 WIB
Poster Film Obsession (Wiipedia)
Poster Film Obsession (Wiipedia)

 

HALOJEMBER - Genre horor supranatural selalu menawarkan premis yang menarik, terutama ketika mengangkat tema benda terkutuk yang membawa malapetaka. Obsession (2025) hadir dengan konsep tersebut melalui kisah sebuah mainan misterius yang mampu mengabulkan keinginan pemiliknya. Namun, seperti kebanyakan cerita horor klasik, setiap permintaan memiliki harga yang harus dibayar.

Ditulis, disutradarai, sekaligus disunting oleh Curry Barker, Obsession memadukan unsur horor, psikologis, dan tragedi menjadi sebuah kisah yang tidak hanya menghadirkan jumpscare, tetapi juga mengajak penonton merenungkan sisi gelap obsesi manusia.

Sinopsis

Film ini mengikuti kisah Bear (Michael Johnston), seorang karyawan toko musik yang diam-diam menyimpan perasaan kepada sahabatnya, Nikki (Inde Navarrette). Kesulitan mengungkapkan isi hatinya membuat Bear memilih jalan pintas ketika menemukan sebuah mainan supranatural yang diyakini mampu mengabulkan keinginan.

Bear berharap Nikki akhirnya jatuh cinta kepadanya. Keinginannya memang terkabul, tetapi bukan dengan cara yang ia bayangkan. Hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang mengerikan ketika kekuatan supranatural dari mainan tersebut mulai menuntut balasan.

Semakin Bear berusaha memperbaiki keadaan, semakin besar pula teror yang mengancam dirinya dan orang-orang di sekitarnya.

Premis Sederhana yang Efektif

Sekilas, cerita Obsession mengingatkan pada berbagai film horor tentang benda terkutuk. Namun, film ini memberikan pendekatan berbeda dengan menjadikan obsesi dan rasa cinta yang tidak sehat sebagai inti konfliknya.

Alih-alih hanya menghadirkan sosok hantu atau makhluk menyeramkan, film ini memperlihatkan bagaimana keinginan manusia untuk mengendalikan perasaan orang lain justru menjadi awal dari kehancuran.

Konsep tersebut membuat horor yang disajikan terasa lebih personal karena berakar pada emosi dan pilihan karakter utamanya.

Atmosfer Horor yang Dibangun Perlahan

Curry Barker memilih membangun ketegangan secara bertahap. Bagian awal film lebih banyak mengeksplorasi hubungan Bear dan Nikki sehingga penonton memahami motivasi di balik keputusan sang tokoh utama.

Ketika unsur supranatural mulai muncul, suasana berubah drastis. Adegan demi adegan dipenuhi rasa tidak nyaman, visual yang gelap, serta kemunculan teror yang semakin intens menuju babak akhir.

Pendekatan slow-burn horror ini membuat penonton memiliki waktu untuk mengenal karakter sebelum akhirnya disuguhkan berbagai kejadian menyeramkan.

Akting yang Meyakinkan

Michael Johnston tampil cukup meyakinkan sebagai Bear, sosok pria biasa yang perlahan kehilangan kendali akibat obsesinya sendiri. Ia mampu memperlihatkan perubahan karakter dari pribadi yang pemalu menjadi seseorang yang dipenuhi rasa takut, bersalah, sekaligus putus asa.

Sementara itu, Inde Navarrette berhasil membawakan karakter Nikki dengan natural. Perubahan sikap Nikki setelah pengaruh kekuatan supranatural menjadi salah satu elemen yang membuat cerita terasa semakin mencekam.

Para pemeran pendukung seperti Cooper Tomlinson, Megan Lawless, dan Andy Richter juga memberikan kontribusi yang memperkuat dinamika cerita.

Visual dan Efek Horor

Dari sisi sinematografi, Obsession memanfaatkan pencahayaan redup, lorong-lorong sempit, serta komposisi gambar yang menciptakan rasa gelisah.

Efek horornya tidak hanya mengandalkan jumpscare. Banyak adegan yang membangun ketegangan melalui suara-suara aneh, ekspresi karakter, hingga kemunculan mainan supranatural yang menjadi pusat teror.

Pendekatan ini membuat suasana film terasa lebih menyeramkan dibanding sekadar mengandalkan efek kejut.

Di balik kisah horornya, Obsession menyampaikan pesan bahwa tidak semua keinginan layak diwujudkan, terutama jika bertujuan mengendalikan kehendak orang lain.

Film ini menunjukkan bahwa cinta yang dipaksakan bukanlah cinta yang sesungguhnya. Obsesi, rasa memiliki, dan keinginan untuk memanipulasi perasaan seseorang hanya akan membawa kehancuran.

Pesan tersebut menjadi nilai lebih yang membuat film ini memiliki lapisan cerita di luar unsur horornya.

Obsession (2025) berhasil menghadirkan horor supranatural yang tidak hanya mengandalkan kemunculan makhluk menyeramkan, tetapi juga memanfaatkan rasa takut yang lahir dari obsesi manusia. Dengan premis sederhana namun efektif, akting yang solid, serta atmosfer yang semakin mencekam menuju klimaks, film garapan Curry Barker ini layak menjadi tontonan bagi pencinta horor yang menyukai cerita dengan sentuhan psikologis.

Meski masih menggunakan beberapa elemen horor yang familier, Obsession tetap mampu memberikan pengalaman menonton yang menegangkan sekaligus mengingatkan bahwa setiap keinginan yang dipenuhi dengan cara instan selalu memiliki konsekuensi yang harus dibayar.

 

Editor : Viona Rj
#obsession #film horor