Ukulele, gitar, flute, biola, selo, dan kontrabas menghasilkan alunan musik yang menarik. Beragam alat musik itu menghasilkan instrumen musik keroncong.
Masyarakat kebanyakan kerap menyebut genre musik ini adalah musik vintage/ jadul. Namun demikian genre musik ini sampai sekarang masih tetap eksis. Bahkan, di Jember.
Buktinya keroncong tetap diminati adalah setiap 6 bulan sekali digelar panggung "Parade Keroncong" yang dihelat oleh Pamori.
Pamori adalah Paguyuban Artis Musik Keroncong Indonesia yang juga ada di Jember. Pada Minggu 14 Januari 2024, bertempat di gedung Letkol. Dr. RM. Soebandi, Universitas Dr. Soebandi - Jember.
Dengan tajuk "Semangat Lestarikan Keroncong Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri".
Dalam acara tersebut, pesertanya tidak hanya para senior, tetapi juga kalangan muda.
Baca Juga: Ajak Stop Nikah Usia Anak. Siswi SMKN 2 Jember Bikin Karya Video
Walau keroncong itu berkesan musik nostalgia, tapi siapa sangka musik ini di bawa oleh bangsa Eropa saat ke Indonesia.
Awal mula kepopuleran musik keroncong adalah pada awal abad ke-20. Dilansir dari situs Indonesia.go.id, walau industri rekaman belum muncul namun saat keroncong populer lewat berbagai pentas.
Dari Mestizos ke Betawi.
Konon musik keroncong pertama kali dibawa oleh orang Mestizos ke Tanah Betawi, pada 1661. Betawi itu berada di Jakarta.
Lantas, siapakah orang Mestizos?
Mestizos adalah orang yang memiliki keturunan pelaut Portugis dan akhirnya menikah dengan penduduk lokal. Terus menjadi koloni
Mengutip dari situs Dewan Kesenian Jakarta, musik keroncong mulai disebarkan pada abad ke-20, dari Batavia hingga ke Soerabaja atau Surabaya.
Musik keroncong saat itu digunakan sebagai lagu pengiring dalam pentas teater komedi. Komedi itu biasanya yang membawakan kisah dari Timur Tengah.
Hingga saat ini, musik keroncong tetap menjadi primadona masyarakat Indonesia dan masih terus diminati.
Editor : Halo Jember