BANYUPUTIH, Halo Jember - Di tengah gemerlapnya musik modern, suara dentuman ketipung tetap mampu mencuri perhatian. Alat musik perkusi tradisional ini, meski sederhana, memiliki daya tarik yang tak lekang oleh waktu.
Di Bondowoso, tepatnya di Sanggar Seni Watulawang, Desa Banyuputih, Kecamatan Wringin, ketipung terus dimainkan dan dilestarikan.
Alat musik ini mengiringi berbagai genre musik seperti dangdut, koplo, hingga hadrah.
Bunyi ketukan ketipung itu terdengar jelas dari kejauhan. Iramanya asyik untuk dinikmati, bahkan tak jarang membuat tubuh bergerak secara spontan.
Alat musik yang berbentuk seperti gendang namun berukuran kecil ini terbuat dari kayu serta kulit sapi.
Meski bentuknya sederhana, memainkan ketipung membutuhkan teknik dan kepekaan ritme yang baik.
Mahfud, Ketua Seni Ketipung Sumber Watulawang, menjelaskan, memainkan ketipung bukan sekadar menabuh. Ada teknik dan kepekaan ritme yang harus diperhatikan.
Secara umum, terdapat dua teknik utama: pukulan tengah dan pukulan pinggir.
Pukulan tengah menghasilkan suara "duk" yang berat, sementara pukulan pinggir menghasilkan suara "tak" yang nyaring.
Baca Juga: Sejarah Kentrung Kesenian Khas Bondowoso, Bukan Sembarang Alat Musik
Pukulan dilakukan dengan menggunakan jari-jari tangan, bukan telapak penuh pada permukaan ketipung yang terbuat dari kulit sintetis atau kulit kambing yang direntangkan di atas tabung kayu atau fiber.
Pola dasar yang umum digunakan adalah kombinasi ritme "tak duk tak tak duk".
Pola ini disesuaikan dengan tempo lagu yang dimainkan dan berperan penting dalam menjaga kestabilan tempo serta mengiringi ketukan kendang dan drum.
Kesalahan dalam memainkan ketipung dapat memengaruhi keseluruhan irama band.
Bermain ketipung bukan hanya soal teknik, tetapi juga soal menikmati irama dan merasakan getaran musik.
Setiap dentuman ketipung mengajak tubuh untuk bergerak mengikuti irama, menciptakan suasana yang penuh semangat dan kebersamaan. (ham/dwi)
Editor : Sidkin