Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Simak Awal Mula Diadakan Haul Solo

Dwi Siswanto • Kamis, 13 Juni 2024 | 22:24 WIB
Para jamaah ziarah di tiga makam keturunan Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi. (MANNISA/RADAR SOLO)
Para jamaah ziarah di tiga makam keturunan Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi. (MANNISA/RADAR SOLO)

HALO JEMBER – Setelah Haul Habib Sholeh Tanggul dan Haul Habib Abu Bakar Gresik. Masih ada haul cukup banyak menyedot perhatian masyarakat. Yaitu, Haul Solo. Namun, sebelum mengikuti haul tersebut tidak ada salahnya mengenal lebih dekat asal muasal atau sejarah digelarnya Haul Solo.

Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi atau disebut Habib Ali Solo itu ini lahir pada tahun 1259 H atau 1839 M. Beliau wafat pada tahun 1333 H  atau 1913 M. Sehingga Haul Habib Solo pun usianya sudah lebih dari satu abad.

Beliau adalah sosok muallif atau pengarang kitab maulid Simtudduror. Baca Juga: Simak dan Simpan. Bacaan Maulid Simtudduror. Karya Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi Solo Kitab tersebut pun menyebar ke beberapa kawasan. Tidak hanya di Indonesia saja, tapi juga di Yaman, Singapura, hingga Afrika. Maka tidak salah, bila Haul Habib Ali Solo ini banyak orang dari berbagai negara itu datang.

Lokasi Haul Solo ini pun dipusatkan ke Kawasan Masjid Ar-Riyadh, Jalan Kapten Mulyadi, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo. Masjid tersebut pun juga dibangunkan oleh putra Habib Ali, yaitu Habib Alwi bin Ali Al Habsy.

Habib Alwi putra dari Habib Ali Solo
Habib Alwi putra dari Habib Ali Solo

Mengutip penelitian yang diterbitkan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, anak dari Habib Ali, yakni Habib Alwi yang pertama kali menyelenggarakan Haul Solo.

Habib Alwi bin Ali memang diketahui hijrah ke Indonesia sesaat setelah ayahandanya wafat. Saat Habib Ali Solo wafat, beliau pun meminta anaknya meneruskan dakwahnya di Indonesia.

Kedatangan, putranya yaiutu Habib Alwi beserta anak Habib Ali lainnya justru menginjakkan kaki di Tanah Air di Garut, Jawa Barat. Namun, Habib Alwi pindah ke Solo karena banyak pendatang dari Seiwun, Yaman, tempat dia berasal yang menetap di sana Solo.

Selain itu, keputusan tersebut merupakan buah dari ajakan salah satu temannya, yaitu Babib Muhammad bin Abdullah Al-Idrus. Habib Alwi juga memilih menetap di Solo karena salah satu saudara kandungnya, yaitu Habib Ahmad bin Ali al-Habsyi yang lebih dahulu menetap di sana.

Seiring berjalannya waktu, Habib Alwi pun mendirikan masjid di Kota Solo yang diberi nama persis seperti nama Masjid yang dibangun ayahnya di Hadramaut, yaitu Masjid Riyadh, pada 1355 H. Masjid itu dibangun di sebidang tanah yang diwakafkan oleh Habib Muhammad bin Abdullah Al-Idrus.

Beliau juga mendirikan zawiyah atau majelis kecil untuk mengaji yang berada di sisi utara Masjid Riyadh. Sampai saat ini, pengajian yang diinisiasi oleh Habib Alwi masih terus dilanjutkan.

Setelah Habib Alwi meninggal pada 1953, kepemimpinan di masjid dan zawiyah Riyadh Solo dipegang oleh putra tertuanya, Habib Anis. Habib Alwi dimakamkan di halaman Masjid Riyadh. Di makam kompleks keluarga itu kini terdapat tiga makam, yakni makam Habib Alwi dan dua anaknya, Habib Ahmad, dan Habib Anis.

Baca Juga: Kenali Tiga Makam Habib di Masjid Ar Riyadh Solo.

Tentang Habib Ali

Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi. (Jeda.id)
Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi. (Jeda.id)

Habib Ali terlahir dari pasangan Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi dan Habibah Alawiyah binti Husein bin Ahmad Al-Hadi Al-Jufri. Nasab mulia Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi tidak perlu diragukan lagi. Sebab, dalam Manaqib Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, nasabnya tersambung melalui jalur nasabnya Ali Zainal Abidin bin Husein bin Fathimah az-Zahra binti Muhammad bin Abdillah.

Dalam biografi Habib Ali bin Muhammad Al Habsy diceritakan ketika Habib Ali berusia tujuh tahun, ayahnya pindah ke Kota Makkah bersama ketiga anaknya yang sudah dewasa yakni Abdullah, Ahmad, dan Husein.

Saat Habib Ali berumur 11 tahun, bersama sang ibu hijrah ke Seiwun untuk memperdalam ilmu fiqih dan ilmu-ilmu lainnya. Kepindahan tersebut sesuai apa yang diperintahkan Habib Umar bi Hasan bin Abdullah Al-Haddad.

Habib Ali dibesarkan di bawah asuhan dan pengawasan kedua orang tuanya. Pada usia yang amat muda, Habib Ali Al-Habsyi telah mempelajari dan mengkhatamkan Al-Qur’an dan berhasil menguasai ilmu-ilmu dzahir dan batin sebelum mencapai usia yang biasanya diperlukan untuk itu. Sehingga sejak saat itu dirinya diizinkan oleh para guru dan pendidiknya untuk memberikan ceramah-ceramah dan pengajian-pengajian di hadapan masyarakat.

 Dalam sejarah Haul Solo, Ketika berusia 37 tahun, Habib Ali membangun ribath (pondok pesantren) pertama di Hadramaut, untuk para penuntut ilmu dari dalam dan luar kota. Ribath menyerupai masjid terletak di sebelah timur halaman masjid Abdul Malik. Biaya orang-orang yang tinggal di ribath beliau tanggung sendiri.

  Saat berusia 44 tahun, beliau membangun Masjid Riyadh di Kota Seiwun, pada tahun 1303 H. Pada bulan Syawal 1305 H, Habib Ali menggubah sebuah syair tentang Masjid Riyadh. Beliau berkata “Dalam Masjid Riyadh terdapat cahaya rahasia dan keberkahan Nabi Muhammad SAW.

 Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi meninggal pada 20 Rabiuts Tsani 1333 H. Pada tahun-tahun terakhir menjelang wafatnya, penglihatan Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi semakin kabur.

 Habib Ali Al-Habsyi meninggalkan lima anak, empat laki-laki dan seorang putri dari dua istri. Yang pertama seorang wanita Qosam (bernama Abdullah) dan Syarifah Fatimah binti Muhammad Maulakhela (Muhammad, Ahmad, Alwi dan Khadijah).

Editor : Dwi Siswanto
#Habib Ali Solo #haul solo #Habib Alwi bin Ali Al Habsy #solo #Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi