Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

CERITA. KH Hasyim Asy'ari, Kakeknya Gus Dur Pernah Nyantri di Kyai Sekar Leces Probolinggo

Dwi Siswanto • Rabu, 29 Mei 2024 | 03:14 WIB
Photo
Photo

HALO JEMBER – Penyebaran agama Islam di Probolinggo tidak terlepas dari peran yang dikenal dengan Kyai Sekar Al Amri. Selain mendirikan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Amri sebelum kemerdekaan. Rupanya kakek dari KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) yaitu KH Hasyim Asy’ari pernah berguru ke Kyai Sekar

Ponpes Al Amri yang didirikan oleh Kyai Sekar itu cukup tua usianya. Tercatat dirikan pada tahun 1850. Namun, ada yang menyebut Ponpes Kyai Sekar di Leces, Kabupaten Probolingg, Jawa Timur  itu berdiri 1825.

Bahkan, Ponpes Al Amri tersebut juga dijadikan tempat bersembunyi selama perang Diponegoro atau perang Jawa dalam melawan penjajah. Bahkan, dalam persembunyian di Ponpes Al Amri tersebut, Pasukan Pangeran Diponegoro juga merumuskan taktik berperang di Ponpes Kyai Sekar tersebut.

Kiai Sekar sendiri dikenal sebagai kiai yang alim, sehingga sangat disegani saat itu. Murid-muridnya tidak hanya berasal dari Probolinggo. Namun, hingga Kabupaten Lumajang dan Jember.

Pada perkembangannya, Ponpes Kiai Sekar ini kemudian berganti nama menjadji Ponpes Al Amri sekitar tahun 1990-an. Lokasinya sama, hanya namanya yang kemudian berubah. “Sebelum berdiri Ponpes Kiai Sekar yang saat ini dikenal sebagai Ponpes Al Amri, Desa Leces, saat itu masih berupa rawa. Kiai Sekar sepuh ini membabat alas di desa ini,” kata Gus M Hasanuddin, cicit Kiai Sekar.

Dalam sistem pengajarannya, Kiai Sekar memilih mengajarkan ilmu tasawuf dan tauhid. Kealimannya dalam ilmu tasawuf diakui oleh masyarakat dan para ulama saat itu.

Sebagai ahli tasawuf, keilmuan dan kealiman Kiai Sekar diakui oleh banyai kiai besar lainnya. Di antaranya, Kyai Hasyim Asy’ari atau yang dikenal sebagai Hadratus Syaikh. Pendiri Nahdhatul Ulama (NU) ini bahkan pernah berguru pada Kyai Sekar.

Gus M Hasanuddin, cicit Kyai Sekar mengatakan, cerita bahwa Kyai Hasyim Asy’ari pernah berguru pada buyutnya itu disampaikan oleh KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Gus Dur menceritakannya saat menghadiri haul Kiai Sekar pada 2006 di Ponpes Al Amri di Leces.

Di hadapan ribuan jamaah yang hadir dalam haul itu, Gus Dur menyebut bahwa Kyai Hasyim yang tidak lain adalah kakeknya sendiri pernah berguru pada Kiai Sekar. Saat itu, Kyai Hasyim datang ke Ponpes Kiai Sekar dan nyantri tidak sampai setahun.

Ia juga tidak tahu pasti apa yang dipelajari oleh Kyai Hasyim dari Kyai Sekar. Namun, diyakini Kyai Hasyim nyantri sebelum kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Sebab, Kyai Sekar wafat sebelum Indonesia merdeka.

“Kami di sini baru tahu bahwa Hadratus Syaikh pernah berguru pada buyut kami dari cerita Gus Dur saat memberikan ceramah di acara haul itu. Cuma nyantri-nya tahun berapa, saya kurang tahu pasti,” katanya.

Setelah Kiai Sekar wafat, anak keturunan Kiai Sekar tetap mengembangkan ponpes setempat. Mulai dari Kiai Sekar Anom, kakek dari Gus Hasanuddin hingga Kiai Suhud, ayah dari Gus Hasanuddin.

Kini, Ponpes Al Amri dikembangkan lebih modern.  Santrinya mencapai lebih dari 600 orang. mereka berasal dari seputar wilayah Leces hingga Kecamatan Ranuyoso, Klakah dan Kecamatan Jatiroto, Kabupaten Lumajang. Ada pula santri yang berasal dari Kecamatan Tanggul, Kabupaten Jember.

“Saat Kiai Sekar masih hidup, pesantren ini memang khusus mengajarkan ilmu tasawuf. Semenjak Kiai Sekar wafat, kami juga mengajarkan ilmu fikih. Beliau dimakamkan di Sumberkedawung, Leces,” tutur Gus Hasanuddin.

 

UNTUK TIRAKAT: Kamar yang digunakan Kiai Muhtadin atau Kiai Sekar Al Amri untuk tirakat. Bangunan ini masih asli, hanya atap yang direnovasi dan dicat ulang. (Radar Bromo Jawa Pos)
UNTUK TIRAKAT: Kamar yang digunakan Kiai Muhtadin atau Kiai Sekar Al Amri untuk tirakat. Bangunan ini masih asli, hanya atap yang direnovasi dan dicat ulang. (Radar Bromo Jawa Pos)

AJARAN ILMU TASAWUF KYAI SEKAR

Salah satu ajaran Kiai Sekar dalam ilmu tasawuf yang masih lestari sampai saat ini adalah dudusan. Caranya, melakukan tirakat semalaman dan bersedekah ternak. Seperti ayam, sapi, atau kambing. Ternak ini disembelih, kemudian dimakan bersama. Dan dilanjutkan dengan mencuci pusaka yang dimiliki.

Dalam ajaran dudusan ini, Kiai Sekar tetap menekankan atau mengedepankan konsep tauhid. Dia mengajarkan, tidak ada pusaka yang sakti. Semata-mata itu berasal dari Allah. Sama seperti kekuatan yang dimiliki oleh seseorang, semuanya juga dari Allah.

“Kiai Sekar diakui sebagai ahli tasawuf. Sehari-harinya ia suka tirakat. Ajaran dusdusan darinya masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat di wilayah Leces dan Tegalsiwalan sampai saat ini,” terang Gus M Hasanuddin, cicit Kyai Sekar.

 Baca Juga: Kisah Habib Ali bin Muhammad Al Habsy saat di Mekkah. Ingat, Oktober 2024 Haul Habib Solo Digelar

Editor : Dwi Siswanto
#Leces #kyai hasyim asyari #Kyai Sekar #gus dur #KH Hasyim Asy'ari