HALO JEMBER – Provinsi Jawa Timur, memiliki 29 Kabupaten dan 9 Kota. Walau berada di Pulau Jawa, tapi memiliki dialek bahasa yang beragam.
Secara garis besar ada 6 budaya dan memiliki dialek bahasa yang berbeda pula. Dalam peta menunjukan.
- Arekan
- Mataraman
- Pendalungan (bagian timur Jawa Timur)
- Madura
- Osing (Blambangan)
- Tengger
DIALEK AREKAN
Arekan dari kata 'Arek' yang artinya bocah, anak, atau bahasa Inggrisnya 'guys'. Dikenal dengan tipikal logatnya yang tinggi, tegas, dan terdengar kasar. Namun egaliter juga.
Dialek ini, ciri khasnya berada di daerah Surabaya sekitarnya. Mulai, Lamongan, Jombang, Mojokerto, Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan dan Malang Raya.
Pembeda antara satu daerah dengan daerah lain. Terdengar dari intonasinya disamping beberapa kosakata khas.
Dialek Arekan juga disebut dengan dialek Jawa Timuran yang menjadi ciri khas provinsi Jawa Timur, wilayah penutur dialek Arekan memiliki adat-istiadat, kebudayaan, kesenian, busana yang berbeda dengan daerah lainnya.
Baca Juga: FIX, Seleksi CPNS 2024 Dibuka Juli. Molor Satu Bulan dari Target
DIALEK MATARAMAN
Untuk Dialek Mataraman sendiri terbagi menjadi 3 kelompok
- Mataraman Kulon yang mencakup Ngawi, Madiun, Ponorogo dan Pacitan. Mataram Kulon ini yang paling serupa dengan Mataraman Solo di Jawa Tengah.
- Mataraman Pesisir atau dialek Aneman, yang meliputi wilayah Bojonegoro dan Tuban. Dialek Aneman ini banyak kemiripan juga dengan dialek Pantura Timur di Jawa Tengah.
- Mataraman Wetan yang terbentang dari Nganjuk sampai Tulungagung dan Trenggalek sampai Blitar dengan peralihan ada di Jombang bagian barat, Kabupaten Malang bagian barat laut, barat, hingga sebagian Malang selatan. Mataraman ini juga terdapat di beberapa kecamatan. Seperti di Jember bagian selatan dan Banyuwangi bagian selatan
Baca Juga: 7 Ajaran Syekh Siti Jenar. Berikut Penjelasannya.
PENDALUNGAN
Pendalungan berarti periuk besar, adalah wilayah dimana orang Jawa dan Madura bertemu serta menghasilkan budaya baru dan dialek baru. Mencakup Probolinggo, Lumajang, Situbondo, Bondowoso dan Jember.
Daerah Pendalungan yang lebih dominan Madura. Yaitu ahasa Madura adalah bahasa mayoritas di tempat tersebut. Seperti, Bondowoso, Situbondo, Lumajang bagian utara, Jember bagian Utara, dan Probolinggo.
Sedangkan Lumajang bagian barat, selatan dan Jember bagian selatan didominasi bahasa Jawa.
Baca Juga: 7 Wisata Madura yang Menyajikan Pemandangan Perbukitan
BAHASA MADURA
Bahasa Madura (termasuk diantaranya dialek Bawean dan Kangean) dituturkan oleh sekitar 17,53% penduduk Jawa Timur (2010) dan tersebar di Pulau Madura dan kepulauan2 sekitarnya.
Surabaya bagian utara, bertumpuk bersamaan dengan bahasa Jawa dan di beberapa kecamatan di Malang Selatan, sebagian Pasuruan, mayoritas wilayah Probolinggo. Seluruh wilayah Situbondo dan Bondowoso. Serta Banyuwangi bagian perbatasan dengan Jember dan pesisir Muncar.
Selain itu dialek Bawean dan Kangean berakar dari bahasa Madura yang dituturkan di Pulau Bawean (kecuali Desa Diponggo yang dominan berbahasa Jawa) dan Kepulauan Kangean, terutama di Pulau besar Kangean dan Paliat).
Perlu diketahui, bahasa Madura dialek Pamekasan-Sumenep dianggap sebagai standar bahasa Madura.
OSING BANYUWANGI (BLAMBANGAN)
Dialek Osing/Banyuwangen ini distribusi bahasanya tersebar di bagian tengah dan timur Banyuwangi serta sebagian di Banyuwangi bagian selatan.
Bahasa Osing atau dialek Osing ini masih menyisakan arkaisme bahasa Jawa yang sudah ditinggalkan bahasa Jawa dialek lain, kendati lafalnya bukan A tapi O.
DIALEK TENGGER
Dialek Tengger dituturkan di kawasan Pegunungan Tengger yang mencakup barat daya Probolinggo, tenggara Pasuruan, timur Malang dan barat laut Lumajang. Dialek Tengger juga masih menyisakan arkaisme dalam kosakatanya termasuk lafal A sebagaimana Banyumasan maupun Cirebon.
Baca Juga: Sejarah Awal Mula dan Manfaat Sholawat Habib Sholeh Tanggul
BAJAU/BAJO
Bahasa Bajo/Bajau ini dituturkan oleh masyarakat Pulau Sapeken dan pulau-pulau sekitarnya di gugusan Kepulauan Kangean. Secara administrasi Kepulauan ini masuk Kabupaten Sumenep, namun secara geografi lebih dekat ke Pulau Bali.
Source: Bambang Priantono
Baca Juga: Sejarah BMW, Bukan Sekedar Produsen Mobil. Motor pun Ada
Editor : Dwi Siswanto