HALO JEMBER – Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur berada pesisir utara Pulau Jawa dan berdekatan dengan Surabaya. Gresik juga dikenal sebagai daerah industri, karena terdapat dua industri besar di Indonesia, Semen Indonesia (Semen Gresik) dan Pupuk Indonesia (Petrokimia Gresik).
Di samping itu, Gresik juga salah satu kabupaten di Jawa Timur yang memiliki pulau. Yaitu Pulau Bawean.
Pulau yang memiliki 48.033 km², dengan jumlah penduduk sebanyak 41.144.067 jiwa (tahun 2022) tersebut juga memiliki fauna khas. Hewan yang paling terkenal di Bawean, adalah Rusa Bawean. Bawean pun juga menyuguhkan pemandangan eksotis.
Keindahan dan keramahtamahan penduduk Pulau Bawean, ternyata menyimpan potensi gempa yang cukup membuat ahli geologi binggung.
Sebab, gempa yang terjadi di sekitar Pulau Jawa, kerap terjadi di daerah selatan. Namun, pada Rabu (3/4/2024) dataran di Kabupaten Gresik pada pukul 16.02 merasakan getaran. Banyak orang berhamburan keluar dengan kekuatan gempa bawean dengan magnetudo 5,6 skala richter.
pusat gempa di laut sejauh 37 kilometer arah barat Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur dengan kedalaman 10 kilometer, dianggap tidak lazim. Biasanya gempa berpusat di kedalaman 500-600 kilometer.
“Gempa dangkal yang pertama. Kejutan, ini membingungkan. Sistem mencatat kedalaman sekitar 11 kilometer. Melihat karekter gelombang yakin ini shallow crustal (kerak dangkal),” kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Daryono dalam webinar bertema Gempa Bawean Jawa Timur yang diselenggarakan Teknik Geodesi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim pada Sabtu (27/4/2024).
Getaran gempa pun dirasakan mulai dari Lamongan, Bojonegoro, Surabaya, Kudus, Blora, Pekalongan, Nganjuk, Pacitan, Malang, Madiun, Semarang, Yogyakarta hingga Banjarmasin, Banjarbaru, dan Balikpapan.
Dalam gempa tidak menimbulkan tsunami. Dalam gempa tersebut, BMKG menurunkan tim survei gempa merusak untuk memetakan dampak kerusakan, dan validasi peta tingkat guncangan. Wilayah utara Jatim, katanya, secara geologi dan tektonik berpusat di zona sesar tua pola Meratus. Gempa bawean 5,9 SR da 6,5 SR diduga dipicu sesar Muria.
“Jika melihat episenter gempa Bawean terletak tepat di jalur sesar Muria di laut. Jalur Sesar berada di zona tua pola Meratus,” ujarnya.
Baca Juga: Lindungi Akidah Anak dari Pengaruh Teknologi
Pola Meratus mengalami masa istirahat panjang. Sesar tua tidak bisa dianggap mati. Bisa jadi, katanya, karakternya menabung potensi gempa atau stress yang terus terakumulasi. Sehingga tak bisa dipastikan sebagai zona kegempaan rendah (low seismicity) di lokasi yang terdapat sesar purba.
BMKG mencatat rangkaian sejarah gempa merusak di laut utara dan estimasi kekuatannya. Semarang pada 1890 dengan amplitudo 6,5 SR, Gresik 1939 sebesar 6,5 SR dan 1950 sebesar 6,5 SR.
Gempa di Jatim tidak hanya berasal dari selatan di subduksi lempeng megathrust tetapi dari sesar aktif daratan dan sesar aktif di laut utara Jatim.
Penyelidik utama Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geolog (PVMBG) Supartoyo menyebutkan PVMBG mencatat setiap tahun sejak 2000-2003 terjadi gempa merusak sebanyak 5-10 kali kejadian. Pada 2016-2020 naik menjadi 10-19 kali. Pada 2021 sebanyak 26, 2022 terjadi 24 kali dan 2023 sebanyak 30 kali. Hingga April 2024 terjadi tujuh kali. Gempa di Bawean tergolong gempa bumi yang unik, terjadi pada struktur geologi atau sesar tua yang mengalami reaktivasi. “Gempa bumi yang unik. Sangat jarang terjadi,” katanya.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Wisata Gresik yang Bisa Kamu Kunjungi Bersama Keluarga
Selama ini, penduduk setempat menganggap Pulau Bawean aman dari gempa bumi. Sehingga hampir tidak ada upaya mitigasi kegempaan. Selain itu, tidak ada catatan gempa merusak sebelumnya. Sumber gempa bumi umumnya sesar aktif yang berumur kuarter atau batuan muda, tetapi jangan dilupakan sesar tua yang berpotensi mengalami reaktivasi.
Supartoyo menyebut gempa di Kabupaten Banjar dan Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan pada 13 Februari 2023 juga bersumber dari sesar tua yang mengalami reaktivasi. Sangat jarang terjadi. Lokasi pusat gempa berada di zona sesar Pola Meratus. Informasi penduduk setempat, gempa serupa terjadi sekitar 55 tahun lalu.
“Sesar muda dipatau dan diamati, sedangkan sesar tua jangan dilupakan,” ujarnya.
Editor : Halo Jember