HALO JEMBER – KH Abdurrahman Wahid, Presiden Indonesia ke 4 yang akrab di sapa Gus Dur pernah hidup dalam satu generasi dengan Gus Miek. Mereka tidak sekedar duduk bersama dalam satu tempat. Tapi cukup akrab, mulai bercanda hingga membahas hal-hal yang penting, termasuk Indonesia.
Bahkan, dalam menentukan langkah politik, Gus Dur tidak hanya membuat perhitungan secara rasional. Banyak pertimbangan yang akan dilakukan Gus Dur. Termasuk datang untuk meminta nasehat-nasehat para ulama.
Salah satu ulama yang pernah didatangi Gus Dur untuk meminta nasehat adalah Gus Miek.
Suatu kisah, yang dilansir dari laduni.id, disela pengumpulan informasi dan penggalangan menjelang satu keputusan politik penting. Gus Dur menyempatkan diri mendatangi Gus Miek yang sedang maraton semaan MANTAB.
"Bagaimana Indonesia ini Gus?," Gus Dur bertanya kepada Gus Miek.
“Oh, Insya Allah baik-baik saja gus. Semua beres. Tinggal dua yang belum beres.”
Jawaban tersebut, membuat Gus Dur bergairah dan lebih dekat mendengar perkataan Gus Miek tersebut. Bahkan, Gus Dur juga menanyakan kembali ke Gus Miek. “Yang belum beres apa Gus?”
“Saya, sama sampean,” ucap Gus Miek.
Tentang Gus Miek
Gus Miek adalah nama akrab dari KH. Hamim Tohari Djazuli yang lahir pada 17 Agustus tahun 1940 dan wafat pada 5 Juni 1993. Beliau merupakan putra dari pendiri Ponpes Al-Falah Mojo Kediri yakni KH. Djazuli Utsman.
Mengutip buku Hikayat Ulama Nusantara (Panutan dan Pejuang Bangsa oleh Ilham Chabibur Rochman dan Susilawati, banyak ulama yang percaya bahwa Gus Miek sudah memiliki karomah kewalian sejak ia berada di dalam kandungan. Salah satunya adalah KH. Mubasyir Mundzir yang kelak akan menjadi sahabat sekaligus guru Gus Miek.
Selain itu, KH Djazuli atau ayah Gus Miek juga telah mengenali tanda-tanda kewalian tersebut sejak ia masih kecil. Hal ini diungkapkannya saat beliau akan wafat dan disampaikan ke keluarga dan kyai di sekitarnya pada saat itu bahwa anaknya tersebut memiliki tanda-tanda kewalian.
Sejak kecil, Gus Miek tumbuh sebagai anak yang pendiam. Ia lebih senang pergi ke pasar untuk melihat para pedagang dari pagi hingga mereka tutup. Beliau juga sangat senang memerhatikan para pemancing di belakang pesantren.
Konon, para pemancing juga selalu senang saat Gus Miek datang. Mereka percaya, ikan-ikan akan berdatangan saat Gus Miek hadir di pemancingan tersebut.
Karomah lain dari Gus Miek adalah saat ia pergi dengan salah seorang santri ke sungai. Kemudian, beliau hanyut terbawa arus dan santri tersebut pun panik karena tidak dapat menemukan Gus Miek.
Santri itu berlari menuju ke kediaman ayah Gus Miek untuk melaporkan kejadian tersebut. Ketika mendengar kabar tersebut, KH Djazuli langsung memerintahkan seluruh santrinya untuk mencari Gus Miek.
Sesampainya di sungai, mereka menemui Gus Miek sedang duduk di tepi sungai dengan kondisi yang kering. Tidak tampak sedikit pun bahwa dia telah tenggelam. Hal ini membuat para santri keheranan dan bertanya “Anda dari mana saja?” lalu, Gus Miek menjawab “saya tadi dibawa oleh Nabi Khidir.”
Sejak saat itu, karomah dari Gus Miek semakin diyakini oleh banyak orang.
Gus Miek Wafat
Pada 5 Juni 1993 bertepatan dengan bulan dzulhijjah dalam kalender Hijriyah, Gus Miek mengembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Budi Mulya Surabaya. Beliau meninggalkan seorang istri dan lima orang anak.
Saat kabar kematian beliau tersebar, semua orang langsung berdatangan menuju kediaman beliau untuk ikut menyalatkan dan menguburkannya. Terlepas dari kontroversinya, ketika Gus Miek wafat banyak ulama mengakui kegigihan beliau dalam melakukan syiar Islam.
Editor : Dwi Siswanto