Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Larangan Keluar Rumah hingga Tradisi Kerbau Bule. Berikut Mitos, Larangan, dan Ritual Malam 1 Suro

Dwi Siswanto • Kamis, 4 Juli 2024 | 22:59 WIB
Kirab kebo bule yang menjadi ritual pada malam 1 suro di Solo. (foto: Jawa Pos)
Kirab kebo bule yang menjadi ritual pada malam 1 suro di Solo. (foto: Jawa Pos)

HALO JEMBER - Malam Satu Suro, yang menandai awal Tahun Baru dalam kalender Jawa, merupakan momen yang penuh dengan makna dan tradisi bagi masyarakat Jawa.

Namun, di balik perayaan ini, terdapat kepercayaan kuat yang melarang orang keluar rumah saat malam Satu Suro. Apa alasan di balik larangan ini?

Berbagai kepercayaan tradisional mengajarkan bahwa orang yang memiliki weton tertentu harus berhati-hati pada hari-hari tertentu, karena dianggap lebih rentan terhadap kesialan.

Misalnya, ada larangan bagi mereka untuk keluar rumah pada waktu-waktu tertentu agar terhindar dari musibah atau kejadian buruk.

Selain itu, ada keyakinan kuat terkait malam 1 Suro, di mana diyakini bahwa para individu yang bersekutu dengan kekuatan gelap atau setan sedang aktif mencari korban atau tumbal.

Tujuannya adalah untuk meningkatkan kekayaan mereka atau menambah kesaktian. Oleh karena itu, pada malam 1 Suro, banyak orang yang memilih untuk tetap berada di rumah dan menghindari kegiatan di luar untuk menjaga keselamatan diri mereka.

Keyakinan ini sering kali disertai dengan berbagai ritual dan upacara yang bertujuan untuk melindungi diri dari pengaruh negatif dan menjaga keseimbangan spiritual.

Berikut adalah mitos dan larangan pada 1 suro:

  1. Larangan Keluar Malam

Salah satu mitos yang paling terkenal adalah larangan untuk keluar rumah pada malam 1 Suro. Masyarakat percaya bahwa keluar rumah pada malam ini bisa mendatangkan sial atau bahkan bahaya, karena banyak makhluk halus berkeliaran. Larangan ini didasarkan pada keyakinan bahwa pada malam tersebut, gerbang dunia ghaib terbuka lebar, sehingga makhluk-makhluk halus keluar dari tempat persemayamannya dan dapat mengganggu manusia.

  1. Tidak Boleh Bicara atau Berisik

Salah satu larangan pada malam 1 Suro adalah tidak boleh bicara atau berisik. Beberapa komunitas bahkan melaksanakan ritual bisu atau Tapa Bisu Mubeng Beteng sebagai bentuk penghormatan dan kehati-hatian.

  1. Pindah Rumah

Pindah rumah pada malam 1 Suro dianggap pamali dan dapat mendatangkan kesialan. Masyarakat percaya bahwa melakukan perpindahan tempat tinggal pada malam ini akan membawa nasib buruk dan masalah.

  1. Mengadakan Pesta atau Hajatan

 Banyak orang menghindari mengadakan acara seperti pernikahan atau sunatan di bulan Suro karena dianggap pamali dan membawa bencana. Meski demikian, dalam ajaran Islam tidak ada aturan yang melarang pelaksanaan pernikahan pada bulan Muharram, yang bertepatan dengan bulan Suro dalam penanggalan Jawa.

Ritual dan Mitos Khusus Malam 1 Suro

  1. Membakar Sesajen sebagai Tolak Bala

Beberapa tradisi dan ritual dilakukan untuk melindungi diri dari bencana. Misalnya, ritual Sedekah Gunung dengan membuang sesajen ke kawah Gunung Merapi diyakini dapat mencegah bencana dan melindungi masyarakat dari bahaya.

  1. Kotoran Kerbau Bule Membawa Keberuntungan

Tradisi Kirab Kerbau Bule di Keraton Surakarta pada malam 1 Suro dianggap memiliki kekuatan mistis. Banyak yang percaya bahwa mengambil kotoran kerbau albino selama acara tersebut dapat membawa keberuntungan dan rejeki.

  1. Ritual Mandi di Laut atau Sungai

Banyak orang yang melakukan ritual mandi di laut atau sungai pada 1 Suro. Ritual ini dikenal sebagai "Siraman" dan dipercaya bisa membersihkan diri dari energi negatif dan kesialan.

Siraman ini dianggap sebagai cara untuk membersihkan jiwa dan raga dari berbagai pengaruh buruk yang mungkin menempel selama setahun terakhir.

  1. Pesta Malam Suro

Biasanya beberapa komunitas mengadakan pesta atau acara besar pada malam 1 Suro. Salah satu yang terkenal adalah acara "Grebeg Suro" di Keraton Surakarta dan Yogyakarta, yang biasanya melibatkan arak-arakan, sesajen, dan upacara adat.

Acara ini bukan hanya menjadi ajang berkumpulnya masyarakat, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan menjaga tradisi yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Beberapa mitos dan larangan tersebut, apabila dilakukan oleh seseorang, dipercaya oleh sebagian orang dapat mendatangkan kesialan hingga hal-hal yang tidak baik. Baca Juga: ‘Cinta Ditolak Dukun Bertindak’. Ini Lima Nama Pelet atau Mantra Pengasihan untuk Percintaan

Namun, terlepas dari mitos dan larangan yang ada, semua itu kembali lagi kepada keyakinan dan kepercayaan masing-masing orang. Setiap individu memiliki kebebasan untuk memilih apakah akan mengikuti tradisi tersebut atau tidak, berdasarkan keyakinan pribadi dan budaya yang dianut. Yang terpenting adalah menghormati perbedaan pandangan dan kepercayaan yang ada di masyarakat.

Penulis: Sufi Binti Khofifah

Editor : Dwi Siswanto
#malam 1 suro #kerbau bule #sesajen #ritual mandi #grebeg suro