HALOJEMBER.COM - Kejahatan yang dilakukan oleh seorang anak di bawah umur itu tidak semata-mata karena salahnya.
Bisa saja anak tersebut mengalami depresi berat sehingga melakukan hal negatif tertentu. Hal tersebut juga berawal dari pola asuh yang kurang tepat.
Kabid Perlindungan Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jember Joko Sutriswanto mengatakan, rumah adalah tempat anak mendapatkan kasih sayang untuk saling menghargai.
Sementara, sekolah adalah rumah kedua bagi anak. Bukan sekadar tempat untuk transfer ilmu pengetahuan.
"Namun, juga tempat pendidikan karakter agar anak merasa nyaman dengan kedua tempat itu," ujarnya di DP3AKB, Rabu (24/7).
Dia menegaskan, anak-anak yang berhadapan dengan hukum tetaplah sebagai "korban" akibat pengasuhan dan pengaruh lingkungan orang dewasa.
"Saya sepakat agar kasus kekerasan anak yang dilakukan oleh anak di lingkungan sekolah ini didalami dulu, apakah ada variabel lain yang menyebabkan anak itu melakukan bullying bahkan pembunuhan," urainya.
Joko menjelaskan, bila mengacu pada Pasal 5 dan 6 Undang-Undang (UU) Peradilan Anak Nomor 11 Tahun 2012 , wajib dilakukan upaya diversi yang bertujuan untuk mencapai perdamaian antara korban dengan pelaku.
"Menyelesaikan perkara anak di luar proses peradilan, menghindarkan anak dari perampasan kemerdekaan, mendorong masyarakat untuk berpartisipasi, dan menanamkan rasa tanggung jawab pada anak," paparnya.
Menurutnya, apa yang dilakukan oleh anak akan sangat dipengaruhi oleh contoh dan perilaku orang yang ada di sekitarnya.
“Jika anak diasuh dengan kekerasan dan sering melihat tindak kekerasan dari orang dewasa di sekitarnya, besar kemungkinan akan melakukan kekerasan," terangnya.
Sebab, menurutnya, masa kanak-kanak adalah masa imitasi, masa mencontoh. Dia akan menyerap secara baik apa yang ada di sekitarnya.
"Layaknya spons. Keteladanan dari orang dewasa, baik orang tua di rumah maupun guru di sekolah, menjadi kunci dalam proses pengasuhan dan pendidikan anak," imbuhnya.
Faktor lain yang memengaruhi perilaku kekerasan yang dilakukan oleh seorang anak adalah tayangan media, baik cetak ataupun elektronik.
"Terpaparnya anak-anak oleh materi kekerasan melalui media massa maupun game telah memicu anak untuk melakukan kekerasan," sebutnya.
Dia mengajak agar semua pihak mulai dari pemerintahan hingga sipil untuk bersedia bekerja sama agar tercipta lingkungan yang ramah anak.
"Semua itu diciptakan oleh lingkungan. Kalau lingkungan sehat, maka anak akan tumbuh dengan baik," pungkasnya. (mg2/c2)
Editor : Halo Jember