HALO JEMBER – Pecinta kopi saat ini harus mengeluarkan uang lebih banyak lagi. Sebab, harga kopi di dunia mengalami kenaikan. Bahkan, kopi sachetan atau kopi rentengan yang murah-meriah pun juga naik.
Kenaikan harga kopi dunia, khususnya kopi robusta mulai terjadi setidaknya Mei 2024. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya supply. Hal itu disebabkan, Negara penghasil kopi robusta terbesar ke 2, yaitu Vietnam mengalami kemerosotan produksi.
Banyak petani kopi robusta di Vietnam tersebut mengalami paceklik atau gagal panen. Bahkan, tak sedikit petani kopi robusta di Vietnam mengganti tanaman lain seperti durian. Hal tersebut semakin memperparah harga kopi robusta dunia.
Pabrik kopi robusta di Indonesia pun juga mengalami dampak dari perubahan harga kopi dunia. Contohnya saja kopi kapal api.
Sebelumnya harga kopi kapal api sachetan kemasan kecil untuk satu rentang dikisaran Rp 5.000 sampai Rp 6.000. Harga tersebut bersangsur pelan-pelan mengalami kenaikan Rp 7.000 per rentang. Baca Juga: Kenali Karakter Seseorang dari Kopi Favoritnya
Sementara, untuk awal Agustus sekarang saja pantauan dari Toko Pandan, Jalan A Yani, Kabupaten Jember – Jawa Timur sudah masuk harga Rp 9.000 per rentang.
“Kalau kapal api sekarang jadi Rp 9.000 per renteng,” ucap pedagang Toko Pandan tersebut.
Dilansir dari situs www.bloombergtechnoz.com, pada 6 Mei 2024, Harga kopi robusta menanjak ke level tertinggi dalam 45 tahun.
Menurut Organisasi Kopi Internasional atau International Coffee Organization (ICO). Hal itu terjadi imbas makin ketatnya pasokan untuk jenis kopi yang digunakan dalam campuran espresso dan minuman instan tersebut.
Ukuran harga grosir ICO naik 17% selama April dan merupakan yang terkuat sejak 1979, kelompok yang berbasis di London itu mengatakan dalam laporan bulanan yang diunggah pada Jumat.
Vietnam – produsen kopi Robusta terbesar di dunia – terus menghadapi kesulitan pasokan setelah gagal panen pada musim lalu dan saat ini.
Baca Juga: Mitos Daun Telinga Layu Jadi Tanda Kematian
Selain itu, Salah satu penyebab kenaikan harga itu adalah musim panen yang belum tiba. Sedangkan stok kopi dari musim sebelumnya sebagian besar sudah terjual, kata VnExpress mengutip Vu Duc Con, Wakil Direktur Departemen Pertanian dan Pembangunan Pedesaan Provinsi Dak Lak.
Menurut Departemen Umum Bea Cukai Vietnam, negara itu mengekspor 8.000 ton kopi dalam delapan bulan pertama tahun ini, meraup pendapatan sebesar 85 juta dolar AS. Baca Juga: Waspada Santet Teluh Braja, Digambarkan Mirip Bintang Jatuh Tapi Bisa Lumpuhkan Satu Keluarga
Editor : Dwi Siswanto