HALOJEMBER.COM - Pada salah satu video yang diunggah oleh akun Instagram bernama @anak_esa memperlihatkan sekelompok pendaki yang sedang melakukan summit di Gunung Api Dukono yang berada di Halmahera Utara, Maluku, pada Sabtu (17/8).
Dalam video tersebut terlihat para pendaki berhamburan turun karena Gunung Dukono sedang mengeluarkan abu vulkanik panas.
Menurut keterangan, belasan pendaki itu ternyata tidak memiliki izin untuk melakukan pendakian di Gunung Dukono.
Kemudian, mereka nekat summit ke puncak gunung untuk memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus. Padahal, sudah terdapat larangan untuk melakukan aktivitas di Gunung Dukono.
Dengan demikian, pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Halmahera Utara memasukkan mereka ke dalam daftar hitam pengunjung. Mereka tidak diperbolehkan melakukan pendakian lagi di Gunung Dukono.
Gunung Dukono merupakan salah satu gunung api di Indonesia yang masih aktif hingga sekarang dan telah mengalami beberapa kali erupsi.
Sejak 15 Juni 2008, status gunung ini ditetapkan menjadi waspada (level II). Dengan demikian, masyarakat yang berada di sekitar Gunung Dukono diimbau untuk selalu berhati-hati dan tetap mengikuti arahan dari petugas.
Masyarakat dan wisatawan yang ada di sekitar Gunung Dukono tidak diperbolehkan untuk melakukan aktivitas, mendaki, dan mendekati Kawah Malupang Warirang pada radius 3 kilometer.
Gunung Dukono memang termasuk dalam gunung yang sering mengalami erupsi. Namun, dampaknya cukup rendah bagi masyarakat di daratan.
Kendati demikian, justru berbahaya bagi keselamatan transportasi udara. Abu vulkanik dari letusan gunung tersebut berisiko mengganggu penerbangan dan dapat mematikan mesin pesawat. Dengan demikian, dapat memicu terjadinya kecelakaan.
Baca Juga: Gunung Dukono Meletus, Belasan Pendaki Tanpa Izin Akhirnya Di-blacklist
Aktivitas letusan Gunung Dukono terjadi berkali-kali sejak ratusan tahun silam.
Letusan dahsyat dari Gunung ini terjadi pada tahun 1550 dan menyebabkan Kota Tolo mengalami kerusakan.
Kemudian letusan kembali terjadi pada tahun 1861-1869 dan 1901. Pada 13 Agustus 1933, letusan terjadi lagi dan pusatnya berada di bawah Kawah Malupang-Walirang. Aliran lavanya merusak banyak wilayah yang berada di utara.
Peningkatan aktivitas Gunung Dukono dan disertai letusan kembali terjadi pada tahun 1941-1942, 1945, 1946, 1952, 1969, 1971, 1991, 1992, 1993, dan 1995.
Pada 2 Maret 2003, gunung ini kembali meletes dengan ketinggian abu 200 meter di atas puncak. Kemudian terjadi lagi pada 5 Maret 2003. Jarak material abunya mencapai Tobelo dengan jarak sekitar 15 kilometer dan letusannya terus terjadi hingga 11 Maret 2003.
Peningkatan aktivitas kembali terjadi di tahun yang sama pada bulan Juni dengan interval letusan abu 10-15 menit sekali.
Hingga tahun 2008 aktivitas Gunung Dukono pun masih cukup tinggi. Pada 17-30 Maret 2008, terlihat peningkatan ketinggian asap kawah. Sementara pada 31 Maret-24 April 2008, sinar api terlihat samar-samar di sekitar puncak.
Pada 25 April 2008, muncul lontaran material pijar setinggi 25 meter. Kemudian pada 30 April - 2 Mei 2008, terekam gempa letusan hingga 280 kali per hari. Sementara pada 29 Mei 2008 tercatat ada 137 gempa letusan yang terekam oleh pos pengamatan Gunung Dukono di Mamuya.
Selama itu pula terdengar suara gemuruh dan dentuman yang terdengar hingga pos pengamatan. Bahkan, sempat terlihat semburan abu tebal dengan ketinggian 1.000 meter di atas puncak.
Penulis: Delia Enggar Sugiana
Editor : Halo Jember