Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Wabah Mpox Meningkat, WHO Sebut Jadi Ancaman Global dan Deklarasi Darurat Kesehatan Dunia

Halo Jember • Kamis, 22 Agustus 2024 | 01:46 WIB

 

Wabah Mpox serang dunia. Foto: geralt/Pixabay
Wabah Mpox serang dunia. Foto: geralt/Pixabay

HALOJEMBER.COM - Baru-baru ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah mpox di Afrika sebagai darurat kesehatan global.

Keputusan ini muncul di tengah kekhawatiran tentang penyebaran strain virus yang lebih mematikan, dikenal sebagai clade Ib, yang telah menyebar ke empat negara Afrika yang sebelumnya bebas dari penyakit ini.

Strain clade Ib, yang sebelumnya hanya ditemukan di Republik Demokratik Kongo, kini telah melintasi perbatasan dan menjangkiti negara-negara lain.

WHO merespons dengan cepat, mengadakan pertemuan darurat yang dipimpin oleh Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Setelah pertemuan tersebut, Tedros menyetujui rekomendasi untuk mengumumkan wabah ini sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional (PHEIC). Baca Juga: Picu Infertilitas hingga Kista, Kenali Bahaya BPA bagi Wanita

Deklarasi ini mengindikasikan bahwa wabah mpox tidak lagi sekadar masalah regional, melainkan telah menjadi ancaman global yang membutuhkan tanggapan internasional yang terkoordinasi.

Ketua komite darurat WHO, Dimie Ogoina, menyebut wabah ini sebagai "peristiwa luar biasa," menekankan bahwa situasi di Afrika hanyalah "puncak gunung es."

Mpox, yang sebelumnya dikenal sebagai cacar monyet, merupakan infeksi virus yang dapat menyebar dengan mudah melalui kontak dekat, termasuk melalui benda-benda yang terkontaminasi seperti pakaian atau jarum.

Gejalanya meliputi demam, ruam yang menyakitkan, sakit kepala, nyeri otot, dan pembengkakan kelenjar getah bening.

Sepanjang tahun 2024, lebih dari 17.000 kasus mpox dan lebih dari 500 kematian telah dilaporkan di 13 negara Afrika, dengan Republik Demokratik Kongo mencatat jumlah kasus tertinggi, mencapai lebih dari 14.000 kasus hanya pada bulan ini. Baca Juga: Mitos dan Fakta Telinga Berdenging, Berikut Penjelasan Dokter Spesialis THT RSCM

Sejauh ini, 96 persen dari semua kasus dan kematian terjadi di Kongo. Bahkan, ilmuwan melaporkan kemunculan jenis baru mpox di kota pertambangan Kongo yang diklaim dapat membunuh hingga 10 persen orang yang terinfeksi dan menyebar lebih mudah dibandingkan strain sebelumnya. 

Berbeda dengan wabah sebelumnya, varian baru ini ditandai dengan gejala yang lebih ringan pada alat kelamin, membuatnya sulit dikenali dan berpotensi ditularkan oleh individu yang tidak menyadari dirinya terinfeksi.

Perbedaan utama wabah mpox tahun ini dibandingkan dengan epidemi 2022 adalah bahwa wabah sebelumnya sebagian besar terjadi pada pria gay dan biseksual. Pada tahun 2022, virus ini menyebar terutama melalui kontak dekat, termasuk hubungan seksual.

Namun, pola yang terlihat di Afrika kali ini berbeda. Anak-anak di bawah usia 15 tahun sekarang menyumbang lebih dari 70 persen dari kasus mpox dan 85 persen kematian di Kongo. Baca Juga: Heboh! Nama Fuji dan Satria Ananta Ikut Terseret Dugaan Kasus Perselingkuhan yang Dilakukan Azizah Salsha dan Salim Nauderer

Greg Ramm, Direktur Save the Children di Kongo, mengungkapkan kekhawatirannya atas penyebaran mpox di kamp-kamp pengungsi yang padat di bagian timur Kongo.

"Ada 345 ribu anak yang dijejalkan ke dalam tenda-tenda yang tidak bersih," katanya, dikutip Jumat (16/8/2024).

"Sistem kesehatan negara tersebut sudah runtuh di bawah tekanan kekurangan gizi, campak, dan kolera," tambahnya.

Belum jelas mengapa anak-anak menjadi kelompok yang paling terdampak dalam wabah ini. Namun, para ahli menduga bahwa faktor sosial seperti kepadatan penduduk dan paparan dari orang tua yang terinfeksi mungkin berkontribusi pada tingginya angka kasus di kalangan anak-anak. 

WHO juga telah menyetujui penggunaan darurat untuk vaksin mpox dan mengembangkan rencana respons regional yang memerlukan pendanaan sebesar US$15 juta.

DRC dan Nigeria akan menjadi negara pertama yang menerima vaksin ini, dengan setengah juta dosis siap didistribusikan, dan kemungkinan 2,4 juta dosis tambahan akan diproduksi sebelum akhir tahun ini.

Meski vaksinasi dipandang sebagai kunci utama dalam upaya pengendalian wabah, namun WHO juga menekankan pentingnya peningkatan pengawasan, diagnostik, dan penelitian untuk memahami virus ini lebih mendalam. Baca Juga: Sering Salah Kaprah, Berikut Perbedaan Kiai, Habib, Gus, Syekh, Tuan Guru, dan Ustadz

Pada saat yang sama, WHO juga menyatakan bahwa situasi di Afrika semakin mengkhawatirkan dengan munculnya strain baru mpox yang ditemukan di empat negara Afrika Timur, yaitu Burundi, Kenya, Rwanda, dan Uganda.

  

Penulis: Sufi Binti Khofifah

Editor : Halo Jember
#who #monkeypox virus #kesehatan masyarakat